Bus Trans Musi (BTM) Dilema atau Solusi ?

Di Palembang sekarang ada alat transportasi baru yaitu Bus Trans Musi (BTM) atau Bus Rapid Transit (BRT) yang konsepnya mirip dengan Busway di Jakarta. Tujuan Pemkot membuat alternatif transportasi baru ini adalah sebagai perintis bus yang aman dan nyaman. Satu sisi BTM ini cukup menguntungkan bagi para penumpang yang mendambakan angkutan umum yang nyaman dan aman , apalagi keberadaan dan kondisi bus kota yang ada saat ini "jauh" dari kenyamanan dan keamanan. Prilaku supir yang ugal-ugalan, hiburan musik di dalam bus yang memekakkan telinga, banyak copet dan rawan terjadi pelecehan seksual. Kondisi inilah yang membuat kehadiran BTM menjadi suatu solusi terbaik untuk menghindari semua itu.

Namun melihat kondisi jalan yang ada di kota palembang, kehadiran BTM "dikhawatirkan" akan menambah kemacetan. Karena selama ini keberadaan bus kota yang lama saja sudah memusingkan para pengguna jalan lain, ngebut dan berhenti seenaknya ketika menaikkan atau menurunkan penumpang. Apalagi ini ditambahi dengan BTM, tambah semerawutlah jalan di Kota Palembang ini. Memang Pemkot sudah merencanakan akan mengurangi jumlah trayek bus kota secara bertahap semenjak hadirnya BTM tersebut. Dan akan dimulai hingga 1,5 tahun kedepan. Harapan kita semoga rencana itu berjalan lancar atau tidak mengalami perubahan lagi.

Selain itu kehadiran BTM dan rencana penghapusan trayek bus kota lama bisa mengakibatkan banyak sopir bus kota yang akan kehilangan pekerjaan. Ini yang belum ada solusinya dari pihak Pemkot, apa yang akan mereka lakukan untuk mengatasi itu, mungkin masih dalam "pembahasan" hehehe. Pemkot menghadirkan BTM mempunyai misi untuk menjadi pioner sehingga dapat ditiru para pemilik bus, bila dilihat secara teori memang bagus, tapi ini menjadi kontadiksi dengan rencana penghapusan trayek bus lama. Artinya bila trayek bus kota lama jadi dihapus lalu apa yang bisa di tiru oleh pengusaha bus, lah wong trayeknya saja sudah tidak ada. Atau mungkin meniru hingga batas waktu itu habis hehehe.

Memang setiap ada kebijakan baru selalu ada resiko dan harus ada yang "dikorbankan". Dan kebanyakan suatu kebijakan tidak lepas dari unsur politis, bahkan bisa dikatakan seperti politik "mercu suar". Dimana suatu perencanaan atau proyek tertentu yang diutamakan hanya "nama baik" kota saja tanpa memperdulikan pihak yang akan menjadi korban. Mengotak-atik sistem itu memang tidak mudah karena saling berkaitan satu sama lain. Seperti "kendaraan tua" yang harus turun mesin, tidak cukup hanya dengan mengganti busi lama dengan yang baru.

Comments

  1. hmm..persoalan yg sama dihadapi jakarta wkt busway dilaunching. tapi akhirnya semua terbiasa. maksudnya, terbiasa maceet. hehee

    ReplyDelete
  2. ngapain sih banyak-banyak bikin Bus, gede banget, mendingan suruh make sepeda pancal aja, wes ngga ribet iku pasti, tanpa polusi pula :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts