Examencultus & Diploma jacht (Sejarah pendidikan di Indonesia)

Pendidikan adalah alat yang paling dapat diandalkan, karena dalam pendidikan terjadi proses transformasi informasi dan pengetahuan yang sistematis. Membangun manusia seutuhnya merupakan tujuan yang terbaik dalam kewajiban pendidikan. Seperti kita ketahui pelopor perkembangan pendidikan di Indonesia adalah Bapak Ki Hajar Dewantara, sehingga hari kelahiran beliau yaitu setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Namun tulisan kali ini ingin mengungkap bagaimana sejarah asal mula pendidikan di Indonesia ini dimulai.



Mencermati sejarah Pendidikan tidak dapat lepas dari konteks sejarah Budaya suatu bangsa. yang terbagi menjadi tiga periode yaitu :



Masa Homosapiens hingga jaman pertanian. Pada era ini belum dikenal pendidikan yang tersistem, yang mungkin ada ialah pelatihan ketrampilan dengan cara meniru seniornya. Sesuai apa yang terpahat dalam relief candi, maka pendidikan selain diberikan secara tertulis ada juga secara lisan. Pendidikan lisan baik Hindu maupun Budha bisa berupa dakwah pengajian pimpinan agama atau melalui dongeng,mythos, cerita, legenda secara turun temurun.



Masa Sebelum penjajahan Belanda, sistem pendidikan secara tradisi dilaksanakan di dalam Padepokan, Pawiyatan, Paguron.Pelajaran diberikan kebanyakan secara lisan dan sering diikuti pelatihan kanuragan/kaprajuritan. Dipelajarkan pula pelajaran tertulis (lontar/logam) tentang falsafah, tata krama, budi pekerti, ketata negaraan. Calon murid/siswa aktif mencari guru yang disebut antara lain pendito, panembahan, hajar, dwijoworo, wiku sesuai yang dikehendaki. Siswa yang diterima wajib ngenger (mondok) di paguron dan wajib melakukan tugas-tugas tertentu. Ki Hajar Dewantara (KHD) mengatakan bahwa adanya istilah tugas jabatan tersebut membuktikan bahwa di jaman dulu telah terselenggara perguruan luhur dengan peraturan tata-tertib yang terdeferensiasi. Terbukti para wanita diperbolehkan mengikuti pelajaran di Pawiyatan Luhur kala itu.



Materi pelajaran dalam pendidikan tradisi di Nusantara umumnya secara lisan dan bersifat umum meliputi antara lain perihal kejiwaan, kefilsafahan, kesusasteraan, kanuragan, kaprajuritan, pertanian, titi mongso, pananggalan, adat istiadat, tata krama, perbintangan (misal gubug penceng, panjer sore). Siswa diharuskan mondok/ngenger dalam padepokan, sedang cara pemberian pelajaran kebanyakan dengan bahasa tutur dimana 1 siswa diasuh 1 guru.



Menurut KHD sebelum datangnya penjajah di tanah air telah terdapat badan-badan pendidikan pengajaran tradisional yang berlaku di Nusantara. Padepokan, perguruan, pawiyatan, pesantren secara kontinyu telah melaksanakan pendidikan dan menghasilkan putra terbaik. Sebut saja misalnya Ken Arok, Trunojoyo, Untung Suropati, Sutowijoyo (Panembahan Senopati). Dalam Kerajaan di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan lainnya juga terdapat pendidikan yang secara sistematis diselenggarakan khusus kerabat sentana kraton. Tingkatan pendidikan dikeraton misalnya sasono sunu, sasono putra, sasono putri. Dari kancah inilah lahir alumni bangsawan-negarawan Sultan Agung Hanyakrakusuma, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Sultan Hasanuddin, Sultan Ternate, Pangeran Mangkubumi. Berkat pendidikan tradisi beliau-beliau terbuka mata batinnya, merdeka pikirannya, merdeka jiwanya dan merdeka tenaganya. Literatur pendidikan tradisi menghasilkan karya agung berupa serat Pararaton, Negara Kertagama, Sastra gending, Wulang Reh, Wedotomo.



Masa kedatangan penjajah. Sejak kedatangan penjajah Portugis, Inggris dan Belanda, keberadaan kerajaan Nusantara sebagai pusat budaya bangsa menjadi terpinggirkan bahkan semakin lemah dan mati. Utamanya sejarah pendidikan seperti terputus selama 350 tahun sebagaimana dilansir oleh Sri Paduka Paku Alam IX. Selain itu dalam desertasinya KHD tercantum "saya mempunyai keyakinan seandainya bangsa kita tidak terputus naluri dan tradisi dan tidak kehilangan garis kontinyu dengan jaman lampau, maka sistem pendidikan dan pengajaran di negeri kita sudah menjadi negara yang merdeka dan berdaulat".



Pendidikan kita sekarang baik yang swasta maupun negeri umumnya merupakan doordruk (cetakan/klise) dari sekolah dalam sistem di Belanda. Bahkan cenderung menyimpang menjadi materialis, kolonial, kapitalis dan intelektualis. Seperti diketahui dalam jaman OIC (Oost Indiche Copagnie) bangsa Belanda menganggap tanah air kita semata mata sebagai obyek perdagangan. Mencari dan mendapat keuntungan materiil yang sebesar-besarnya itulah maksud dan tujuan daripada segala usahanya dalam segala lapangan. Tidak lebih dan tidak kurang. Pendidikan dan pengajaran diserahkan sama sekali kepada para pendeta kristen. Kemudian ada instruksi yang menegaskan bahwa kepada pihak rakyat hendaknya pengajaran membaca, menulis dan berhitung, akan tetapi hanya seperlunya saja dan melulu untuk mendidik orang-orang pembantu dalam beberapa usahanya. Jadi semata-mata guna memperbesar keuntungan perusahaan Belanda sendiri.



Pada jaman Napoleon Bonaparte jatuh kekuasaannya, dan pemerintah Nederland dibentuk kembali (tahun 1816) maka di Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda diadakan beberapa perubahan. Diantaranya pada tahun 1818 diadakan Peraturan Pemerintah Pokok, semacam UUD (yang disebut Regeeringsreglement, singkatan dari Reglement op het beleid van de Regeering van Nederlands Indie). Dalam Regeringsreglement (RR) 1818 itu mulai disebut-sebut tentang pemeliharaan pengajaran akan tetapi tidak pernah dilakukan. Baru dalam RR 1854 terdapat pasal-pasal yang mengenai pendidikan dan pengajaran. Diantaranya dicantumkan pasal 125 yang berbunyi : Het openbaar onderwijs vormt een voorwerp van aanhoudende zorg van den gouverneur generaal (Pengajaran negeri adalah hal yang senantiasa menjadi perhatian gubernur jenderal).



Ketetapan ini sungguh baik, tetapi pasal-pasal berikutnya membuktikan jiwa kolonialnya pemerintah Hindia Belanda, yaitu pasal 126 misalnya menetapkan, bahwa pemberian pengajaran kepada anak-anak bangsa Eropa dibolehkan secara bebas. Pasal 127 berbunyi selengkapnya sedapat-dapat harus ada pemberian pengajaran rendah dari pemerintah yang mencukupi kebutuhan penduduk bangsa Eropa. Teranglah disitu maksudnya jangan sampai ada anak-anak bangsa Eropa tidak dapat pengajaran. Bagaimanakah sikap pemerintah Hindia Belanda terhadap anak-anak Indonesia? Pasal 128 dalam soal itu menyebutkan untuk rakyat gubernur jenderal diserahi untuk mendirikan sekolah-sekolah. Tak ada disebut disitu tentang keharusan, tentang kebutuhan, tentang perlunya ada usaha yang mencukupi dan sebagainya. Jadi intinya semua itu hanya basa-basi saja.



Kemudian lahir Regelement voor het Inlands onderwijs, lalu didirikan sekolah guru di Solo, yang kemudian pindah ke Magelang, lalu ke Bandung (1866). Dengan berangsur-angsur dapat didirikan sekolah Bumiputera, yang hanya mempunyai 3 kelas, sedang gurunya seorang dari Kweekschool, dan lain-lainya(pembantu) berasal dari sekolah Bumiputera itu juga, sesudah mendapat didikan tambahan. Maksud dan tujuan dari segala usaha itu tetap untuk mendidik calon-calon pegawai negeri dan pembantu-pembantu perusahaan-perusahaan kepunyaan Belanda. Maksud dan tujuan tersebut tidak berubah, ketika pemerintah memberi kelonggaran kepada anak-anak Indonesia, untuk memasuki Europeesche Lagere School (ELS) karena yang dibolehkan ialah hanya calon-calon murid dokter jawa, murid Hoofden School dan Kweekschool. Suatu bukti bahwa pemerintah Belanda semata-mata mementingkan pendidikan calon-calon pegawai negeri, ialah adanya ujian, yang sangat digemari oleh (membanggakan) anak-anak Bumiputera yang disebut klein ambtenaar sexamen.



Pengaruh penjajahan terhadap sistem pendidikan, Kita lihat dijaman sekarang masih dipakai bentuk-bentuk rumah sekolah, daftar pelajaran yang tidak cukup memberi semangat mencari ilmu pengetahuan sendiri. Karena setiap hari, tiap triwulan, tiap tahun pelajar kita terus menerus terancam oleh sistem penilaian dan penghargaan yang intelektualistis. Anak-anak dan pemuda-pemuda kita sukar dapat belajar dengan tenteram, karena dikejar-kejar oleh ujian yang sangat keras dalam tuntutannya. Mereka belajar tidak untuk perkembangan hidup kejiwaannya, sebaliknya mereka belajar untuk dapat nilai-nilai yang tinggi dalam raport sekolah atau untuk dapat ijazah. Istilah ini disebut penyakit examencultus dan diploma jacht atau mengkultuskan ijasah dan diploma. (kutipan Pidato KHD). Saat itu intinya KHD sudah memperingatkan akan adanya reduksi sistem pendidikan nasional. (Sumber :http://tamansiswa.org , Ki Priyo Dwiarso)



Demikian tadi sejarah singkat pendidikan di Indonesia sebelum era kebangkitan nasional dan masa saat Ki Hajar Dewantara. Dimana beliau memberikan banyak masukan atau pendapat mengenai pendidikan. Dimana semua itu masih sangat relevan dengan kondisi pendidikan yang ada di Indonesia saat ini. Semoga bermanfaat :).

Comments

  1. mampir malam hari sambil baca sejarah tentang pendidikan. memperingati hardiknas ya?

    ReplyDelete
  2. mantab dan komplit sejarah pendidikannya mas...

    ReplyDelete
  3. eSSip Markusip
    Top Markotob ajah
    Mas..

    ReplyDelete
  4. Pendidikan masa kini harus selalu membaca sejarah pendidikan bangsa to...? Biar ga terulang lagi UNAS kog hampir separo gak lulus.....
    :+: Salam Hangat :+:

    ReplyDelete
  5. @OOZ : yah ternyata pendidikan kita ampe skrg masih terpengaruh penyakit examencultus dan diploma jacht :)
    @Achen n Buwel :hehehe
    @Nietha :gak juga sih cuma mumpung masih bulan Mei aj (lhoo) heheh

    ReplyDelete
  6. Sebenarnya sudah mulai dikenalkan multiple inteligent, tapi ternyata belum bisa diterapkan di sekolah2 ya..?

    ReplyDelete
  7. Iya sih.., sekarang ini aja setiap hari Shasa udah disibukkan dg kurikulum yg ekstra berat (menurutku).

    ReplyDelete
  8. sistem pendidikan kita masih mementingkan nilai, bukan pemahaman

    ReplyDelete
  9. @Catatan kecil : gitu ya mbak, kok belum bisa diterapkan yak ? :)
    @The others : itulah inti pidato Bapak KHD dan sampai sekarang model pendidikan spt jaman belanda itu masih atau malah tambah diterapkan lebih ketat :)
    @Rio :yah itulh yg disebut penyakit diatas :)
    @Achen n Buwel : tq :)

    ReplyDelete
  10. sepertinya budaya belanda sudah mendarah daging, tapi tidak menjadi hambatan bagi kita untuk tetap menjadi bangsa yang besar.

    ReplyDelete
  11. memang disini bukan bicara faktor penghambat bro, intinya lebih ke perubahan yang seharusnya :) n semua pasti ada pengaruh positip dan negatifnya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts