RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender (Optimalisasi PUG)

Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Kesetaraan dan Keadilan Gender, akan segera diundangkan pada tahun 2011. Undang-undang tersebut dimaksudkan untuk mengoptimalkan pengarusutamaan gender (PUG) di segala sektor pembangunan mulai dari pusat hingga daerah. Selama ini kebijakan PUG di Indonesia diatur dalam Inpres Nomor 9 Tahun 2000 (Saat masih dijabat Almarhum Gusdur). Kalau masalah PUG ini sudah di atur Undang-undang tersendiri, maka penanganan masalah PUG ini tidak hanya dikelola oleh eksekutif dan legislatif tapi oleh semua pihak. sumber

Demikian berita tentang rencana penetapan RUU tentang pelaksanaan PUG (Pengarusutamaan Gender), dimana Inpres No.9 Thn 2000 akan di"sahkan" menjadi UU pada tahun 2011 nanti. Bicara soal gender, darimanakah awal mula tercetus istilah ini ? Menurut Shorwalter, wacana Gender mulai ramai dibicarakan pada awal tahun 1977, ketika sekelompok feminis di London tidak lagi memakai isu-isu lama seperti patriarchal atau sexist, tetapi menggantinya dengan isu Gender (gender discourse). Dimana sebelumnya istilah sex dan gender digunakan secara rancu.



Apakah gender itu ? Gender adalah perbedaan peran, fungsi, dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman. (sumber : konsep dan teori gender by Dra. Sri Sundari Sasongko, PPGPKP, BKKBN)



Apakah perbedaan Sex/jenis kelamin dengan Gender ? Kalau gender secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya, maka sex secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. sumber



Apakah latar belakang dari perlunya penegasan mengenai gender ini ? Latar belakang penegasan terhadap masalah gender ini karena banyaknya perlakuan diskriminatif terhadap salah satu jenis kelamin (terutama perempuan).



Apa saja bentuk-bentuk diskriminasi atau ketidakadilan gender tersebut? Ada lima jenis bentuk diskriminasi yang sering terjadi yaitu : (konsep dan teori gender by Dra. Sri Sundari Sasongko, PPGPKP, BKKBN)


a.Stereotip/Citra Baku, yaitu pelabelan terhadap salah satu jenis kelamin yang seringkali bersifat negatif dan pada umumnya menyebabkan terjadinya ketidakadilan. Misalnya, karena perempuan dianggap ramah, lembut, rapi, maka lebih pantas bekerja sebagai sekretaris, guru Taman Kanak-kanak; kaum perempuan ramah dianggap genit; kaum laki-laki ramah dianggap perayu.


b.Subordinasi/Penomorduaan, yaitu adanya anggapan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih rendah atau dinomorduakan posisinya dibandingkan dengan jenis kelamin lainnya. Contoh: Sejak dulu, perempuan mengurus pekerjaan domestik sehingga perempuan dianggap sebagai “orang rumah” atau “teman yang ada di belakang”.


c. Marginalisasi/Peminggiran, adalah kondisi atau proses peminggiran terhadap salah satu jenis kelamin dari arus/pekerjaan utama yang berakibat kemiskinan. Misalnya, perkembangan teknologi menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang pada umumnya dikerjakan oleh laki laki.


d. Beban Ganda/Double Burden, adalah adanya perlakuan terhadap salah satu jenis kelamin dimana yang bersangkutan bekerja jauh lebih banyak dibandingkan dengan jenis kelamin lainnya.


e. Kekerasan/Violence, yaitu suatu serangan terhadap fisik maupun psikologis seseorang, sehingga kekerasan tersebut tidak hanya menyangkut fisik (perkosaan, pemukulan), tetapi juga nonfisik (pelecehan seksual, ancaman, paksaan, yang bisa terjadi di rumah tangga, tempat kerja, tempat-tempat umum.



Jadi inti dari penetapan undang-undang Kesetaraan dan Keadilan Gender nantinya bertujuan untuk menimalisir terjadinya kelima bentuk diskriminasi tersebut. Selain itu tujuan dari pemahaman tentang gender ini yaitu agar kita diharapkan tidak lagi mencampuradukkan pengertian kodrat (ciptaan Tuhan) dan non-kodrati (buatan masyarakat yang bisa berubah sepanjang jaman).



Namun bicara mengenai kesetaraan dan ketidakadilan tugas antara lelaki dan perempuan memang masih banyak yang pro dan kontra. Terutama bila dipandang dari sisi teologis terutama yang berkaitan dengan bentuk ketidakadilan jenis Stereotif, subordinasi, marginalisasi terhadap perempuan. Secara pribadi saya kurang setuju dengan penyetaraan dari sisi tersebut, karena hal itu tidak bisa lepas dari faktor kodrati penciptaan manusia, dimana lelaki dan perempuan sudah mempunyai "porsi" tugas tersendiri sesuai dengan kodratnya tersebut. Bukan berarti menganggap kaum wanita "tidak mampu" menjalankan tugas pria tapi lebih untuk "memuliakan" dan "menghargai" sosok wanita yang notabene disadari atau tidak sudah mempunyai peran yang lebih berat dan lebih mulia (seperti melahirkan dan mengasuh anak). Yah semua kembali ke pola pemikiran dan keyakinan masing-masing individu. Yang jelas semua (Lelaki dan perempuan) punya hak untuk menginginkan suatu penyerataan, dan hak itu wajib untuk kita hargai :). Semoga bermanfaat.

Comments

  1. pro kontra tentang kesetaraan gender emang ga ada habisnya

    ReplyDelete
  2. bener banget pro kontranya emang ga pernah ada habisnya
    skalian ijin follow
    kalau berkenan follow back :)

    ReplyDelete
  3. memang lebih enak mengikuti aturan yang ada saja ya, nggak usah reka reka... heheheh

    ReplyDelete
  4. Yup, haknya diberikan sesuai dengan beban kewajiban yang telah dilakukan.......

    ReplyDelete
  5. selamat pagi kawan..
    salam kenal dari http://aby-umy.blogspot.com/

    kalau ade mase singgahlah ke blog saye,, :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts