Gotong Royong Sebagai Solusi

Pengangguran adalah suatu masalah klasik yang hingga sekarang belum bisa ditangani dengan baik oleh pemerintah pusat maupun daerah. Belum ada kota di Indonesia yang bisa menangani masalah pengangguran itu. Yang terjadi malah setiap tahun jumlahnya semakin bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah usia atau angkatan kerja. Tingginya tingkat pengangguran ini karena tidak berimbangnya jumlah lapangan pekerjaan yang ada dengan jumlah pencari kerja. Serta adanya krisis global yang melanda sehingga banyak perusahaan yang terpaksa harus mengurangi pegawainya.



Ada dua hal pokok yang harus menjadi perhatian,yaitu : Perusahaan dan pencari kerja. Kedua hal inilah yang menjadi kunci permasalahan dan harus sama-sama mendapat perhatian.



1. Perusahaan


Harus ada kerjasama yang solid antara Pemerintah pusat dan Pemerintah daerah dengan pihak perusahaan (Tidak hanya sekedar soal pajak dan peraturan). Perusahaan harus diberi perhatian oleh pihak Pemerintah dalam hal kemudahan fasilitas dan penunjang kemajuan suatu perusahaan. Seperti kemudahan perijinan yang berhubungan dengan kesejahteraan karyawan (Jamsostek dan sebagainya). Pemerintah juga harus dapat bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang ada untuk mendata secara lengkap kebutuhan mereka terhadap kualisifikasi pekerja yang mereka inginkan hingga jangka panjang ke depan yang akan bermanfaat untuk strategi peningkatan kualitas SDM yang dibutuhkan.



2. Pencari kerja


Untuk pencari kerja, perhatian yang diberikan akan lebih kompleks karena menyangkut beragam tingkatan dan permasalahan. Mulai dari usia, pendidikan, kemampuan, pengalaman dan sebagainya. Namun yang pasti, para pencari kerja butuh kesempatan dan lapangan pekerjaan yang lebih luas. Salah satu solusinya adalah memberikan motivasi pada pencari kerja untuk tidak terfokus untuk sekedar mengharapkan menjadi karyawan, tapi juga berinisiatif membuka lapangan kerja sendiri atau menjadi wiraswastawan (Entrepreneur).



Seperti yang kita ketahui untuk menjadi entrepreneur butuh modal. Bagaimana solusi untuk membantu modal usaha bagi calon entrepreneur yang tidak mampu ? Ada solusi sederhana untuk mengatasi masalah permodalan ini, yaitu dengan konsep “Gotong royong” dengan menyisihkan sebesar 2.5 % dari penghasilan perbulan setiap pegawai, karyawan swasta dan perusahaan-perusahaan yang ada. Misalkan saja dari 1000 orang pegawai dengan rata-rata penghasilan 2 juta perbulan, artinya akan didapatkan uang sebesar 50.000 rupiah per orang/bulan dikalikan dengan 1000 sama dengan 50 juta perbulan. Sungguh suatu jumlah uang yang cukup besar untuk jadi tambahan modal usaha bagi orang yang “benar-benar” butuh atau tidak mampu, apalagi jika ditambah dengan 2.5 % dari penghasilan seluruh karyawan swasta dan perusahaan yang ada.



Bagaimana mekanisme program ini ? Mekanismenya sederhana dan masih berkonsep “Gotong royong,” dimana Pemerintah harus membentuk badan khusus yang bertugas menampung, mendata, menganalisa dan menyalurkan uang ini kepada pihak yang membutuhkan modal usaha. Pemerintah juga perlu membentuk satuan tugas (Satgas) khusus yang berfungsi mengawasi distribusi penyaluran modal untuk menghindari penyalahgunaan modal tersebut agar tidak di korupsi atau jatuh ke tangan yang salah. Solusi ini sederhana tapi sangat efektif, karena uang modal tersebut sifatnya “berputar” artinya bagi pihak yang dimodali wajib untuk mengembalikan modal tersebut dalam jangka waktu tertentu (dicicil dan tanpa bunga) lalu uang hasil pengembalian itu bisa dimanfaatkan lagi untuk menjadi modal bagi orang lain yang membutuhkan. Demikian seterusnya sehingga prinsip “gotong royong” yang selama ini menjadi image bangsa kita akan terus dapat dirasakan.



Selain modal, tentu butuh “keahlian” untuk bisa berwiraswasta (Entrepreneur) agar modal yang sudah ada tidak habis sia-sia karena “ketidakmampuan” si pelaku usaha dalam menjalankan usahanya. Untuk itu pemerintah juga harus memperhatikan Bagaimana membentuk jiwa dan melatih kemampuan entrepreneur ? Untuk membentuk jiwa atau kemampuan entrepreneur itu dibutuhkan pelatihan yang serius, pelatihan yang tidak hanya sekedar teori tapi juga praktek. Pelatihan ini akan lebih baik jika menjadi mata pelajaran atau mata kuliah khusus di semua jurusan (SMA, SMK dan Universitas). Intinya tidak hanya sekedar mempelajari teori marketing yang notabene lebih memfokuskan kepada teori dan strategi menjual. Tapi bagaimana “menciptakan” suatu peluang usaha yang baru.



Dan yang terpenting dari semua itu tentu saja adalah dukungan dari pihak Pemerintah itu sendiri terhadap kelancaran fasilitas penunjang suatu usaha, selain memberi modal dan pelatihan. Karena suatu usaha (terutama industri kecil) sangat bergantung pada kelancaran fasilitas penunjang seperti Listrik atau air bersih dan kemudahan birokrasi dalam hal pengurusan ijin usaha baru atau pendaftaran merek produk.



Demikian tadi sekedar usulan hehehe, mungkin mudah secara teori. Tapi program ini berintikan rasa gotong royong artinya butuh keihklasan dari individu yang akan menyisihkan 2,5 % dari penghasilannya. Semoga bermanfaat.

Comments

  1. gak bisa dikeciliin font sidebarnya. klik apanya ya?

    ReplyDelete
  2. udah dicoba, gak ada perubahan. yg kegedean hurufnya yg di widget Labels ya?

    ReplyDelete
  3. wah gotong royong, filosofi yang mengindonesia ya...
    Moga lestari dan sukses... ;-)

    ReplyDelete
  4. Konsep yg bagus sekali.. seandainya saja dapat terealisasi ya..?

    ReplyDelete
  5. Menumbuhkan jiwa Entrepreneur memang susah, jadi pemerintah harus membina dan melatih utk menumbuhkannya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts