Kenaikan Tarif Dasar Listrik (Bentuk lain pelayanan ?)

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta pengertian rakyat terkait kebijakan pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) rata-rata 10% mulai 1 Juli 2010. Kenaikan TDL itu menurut presiden untuk kepentingan yang lebih besar. SBY menjelaskan, keputusan pemerintah menaikkan TDL itu sudah diambil setelah melalui berbagai pertimbangan yang matang dan tidak gegabah dan ditujukan untuk kepentingan bersama. Salah satu pertimbangan kenaikan TDL menurut presiden adalah besarnya subsidi dalam APBN.



Presiden menjelaskan, subsidi listrik dalam APBN 2010 mencapai Rp 55,1 triliun. Subsidi itu belum termasuk subsidi BBM dan elpiji sebesar Rp 90 triliun, subsidi pupuk, dan lain lain yang secara total mencapai Rp 210 triliun. Dengan APBN 2010 yang mencapai Rp 1.126 triliun, maka berarti seperlima dana APBN habis untuk subsidi. "Kalau ditambah terus, APBN bisa jebol, kalau jebol kita tidak bisa membiayai yang lain, seperti pendidikan, penanggulangan kemiskinan dan lain lain," jelas Presiden.



Mengenai dampak kenaikan TDL terhadap kenaikan harga barang-barang, presiden yakin tidak akan terlalu besar. Ia menggambarkan, untuk usaha kecil yang menggunakan listrik antara 900-1.300VA, kenaikan listrik mencapai 12%. Berdasarkan studi dari 5 universitas, biaya listrik hanyalah sekitar 4,5%. Jadi kalaupun ada kenaikan harga, seharusnya adalah 12% dari 4,5% saja. sumber



Demikian tadi penjelasan dari Presiden tentang alasan kenapa TDL dinaikkan mulai awal juli nanti. Tapi penjelasan tersebut mendapat kritikan dari YLKI dimana kenaikan tarif dasar listrik tersebut dinilai tebang pilih. DPR menyetujui kenaikan tarif tidak berlaku untuk golongan pelanggan berdaya di bawah 1.300 VA. Alasannya, pelanggan tersebut termasuk rakyat miskin. YLKI membantah argumen tersebut. Menurut Tulus, tidak semua pelanggan berdaya di bawah 1.300 VA miskin. Bahkan, PLN seringkali memberi daya 1.300 VA pada orang miskin. "Konsumen yang miskin terpaksa menggunakan daya 1.300 VA," kata dia. Seharusnya, ujar dia, pemerintah melihat pemakaian kwh/bulan. Golongan pelanggan 450 VA yang pemakaiannya melewati 80 kwh/bulan tak bisa dikategorikan rakyat miskin meskipun pelanggan tersebut berada di pedesaan. Rata-rata pemakaian listrik berdaya 450 VA secara nasional adalah 40-50 kwh/bulan.



Pemerintah, kata Tulus, harus memiliki data kemampuan bayar konsumen sehingga besar kenaikan tarif bisa ditentukan secara objektif. Selain itu, pemerintah harus mempertimbangkan kemampuannya mengucurkan subsidi. "Pemerintah gebyah uyah saja menyatakan pelanggan di bawah 1.300 VA itu orang miskin," ujarnya. sumber



Melihat perbedaan pendapat diatas sebagai orang awam kita hanya bisa "manggut-manggut" saja hehehe, bagaimanapun itu sudah menjadi ketetapan. Tapi dari informasi suatu stasiun tv mengatakan jika alasan dasar kenaikan TDL tersebut karena PLN kurang mendapat pasokan Gas dan Minyak, so jadi tambah bingung hahaha. Terlepas dari mana yang benar dan salah kenaikan tarif listrik pasti akan besar pengaruhnya bagi para pengusaha kecil dan rumah tangga, belum lagi efeknya terhadap kenaikan harga. Secara teori seperti yang dijelaskan presiden diatas memang efeknya secara prosentase sangat kecil, tapi "prakteknya" apakah bisa dijamin ? Selain itu seperti yang dikatakan YLKI, pemerintah memang harus mempunyai data kemampuan bayar perkonsumen agar kenaikan tarif bisa lebih objektif, dan data tersebut "seharusnya" sudah ada terutama di pihak PLN.



Dan kalau mau bicara hak konsumen dan kewajiban produsen, seharusnya PLN dan pemerintah harus lebih banyak "berkaca". Apa bentuk penghargaan yang mereka berikan selama ini kepada para konsumen "setia" PLN, yang selama ini dengan ikhlas dan rela membayar iuran setiap bulan, tarif naikpun mereka "terpaksa" menerimanya dengan lapang dada ?. Lihat saja masih banyak daerah (kabupaten) yang masih sering mengalami atau mendapat jatah "mati lampu" seminggu hingga tiga kali, bahkan ada daerah pelosok yang belum terjamah sama sekali oleh PLN. Apalagi yang akan dijadikan alasan ? begitu miskinkah negeri kita ini? sehingga pasokan gas dan minyak terbatas ? atau begitu besarkah pengaruh subsidi yang tidak terasa sama sekali terhadap APBN? entahlah.

Comments

  1. walah... moga cerahlah ini negeri... duh

    ReplyDelete
  2. ngenetnya tambah mahal dunk... :-D

    ReplyDelete
  3. eh, ibu2 juga pusing sih mikirin biaya sehari2 jadi tambah. bapak2 juga mabok mesti ngasih duit lebih ke isterinya

    ReplyDelete
  4. Waduh listrik naik lg dech...... ,listrik naik tp harga barang jangan naik ya....................., Ayo kita berdoa agar negara menjadi lebih baik yach................

    ReplyDelete
  5. @All : semoga bisa lebih baik kedepannya..amiiin

    ReplyDelete
  6. wah semua jadi niak,
    pada hal ekonomi juga lagi susah nih

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts