Jun 8, 2010

Pelecehan Seksual (Teori dan Hukum)

Di tempat umum, sering terjadi bentuk-bentuk pelecehan seksual terutama pada kaum wanita. Seperti di kantor, sekolah dan di tranportasi umum (Bis, Kereta api) yang merupakan tempat yang sangat memungkinkan terjadinya pelecehan seksual. Bentuk pelecehan seksual tersebut sangat beragam dan masih sangat sulit dibuktikan dan dihindari. Bagaimana teori dan hukum pelecehan seksual, akan dibahas lebih lanjut berikut ini.



Pengertian pelecehan seksual ? Pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang tidak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks. Pelecehan seksual merupakan bentuk dari deskriminasi seksual. Sedangkan menurut kamus besar Indonesia (1990) pengertian pelecehan seksual adalah pelecehan yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja melecehkan yang berarti menghinakan, memandang rendah, mengabaikan. Sedangkan seksual memiliki arti hal yang berkenan dengan seks atau jenis kelamin, hal yang berkenaan dengan perkara persetubuhan antara laki-laki dan perempuan. Dengan demikian, berdasarkan pengertian tersebut maka pelecehan seksual berarti suatu bentuk penghinaan atau memandang rendah seseorang karena hal -hal yang berkenan dengan seks, jenis kelamin atau aktivitas seksual antara laki -laki dan perempuan.



Dalam pelecehan seksual terdapat unsur -unsur yang meliputi :1. suatu perbuatan yang berhubungan dengan seksual, 2. pada umumnya pelakunya laki -laki dan korbannya peerempuan, 3. wujud perbuatan berupa fisik dan nonfisik, 4. tidak ada kesukarelaan. Dari pengertian tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa unsur utama yang membedakan pelecehan seksual atau bukan adalah tindakan “suka sama suka”.



Tetapi kadang pada situasi tertentu yang menggunakan wanita sebagai objek untuk menarik keuntungan disuatu lingkungan kerja tidak dapat dikategorikan sebagai pelecehan seksual. Contohnya, pelayan bar wanita harus menggunakan rok pendek ketat dan pelanggan yang memesan minuman bar dengan bahasa seksual. Hal ini tidak dikategorikan sebagai pelecehan seksual karena hal ini tidak melanggar ras, norma dan kebijakan yang diterapkan oleh organisasi atau lingkungan kerja.



Ada dua pendekatan yang dilakukan untuk melakukan penilaian atau pengukuran terhadap tindakan pelecehan seksual. Pertama adalah SEQ (Sexual Experiences Questionaire) yang menilai pelecehan seksual secara psikologi seperti rasa kurang nyaman dalam lingkungan kerja atau dalam organisasi akibat lelucon seksual. Kedua adalah ISH (Inventory of Sexual Harassment) yang menilai pelecehan seksual dalam bentuk tingkah laku. sumber



Bagaimana hukum di Indonesia terhadap pelecehan seksual? Pasal-pasal yang mengatur tentang tindak pidana tersebut terdapat pada KUHP mengenai kejahatan kesusilaan dan pelanggaran kesusilaan. Pencabulan (pasal 289 -296 ; 2) penghubungan pencabulan (pasal 286-288). Masalahnya dalam kenyataan, apa yang dimaksud dengan pelecehan seksual mungkin belum masuk dalam kategori yang dimaksud dalam pasal -pasal tersebut. Dari definisi umum tersebut maka pelecehan seksual diartikan sebagai segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi seksual yang dilakukan secara sepihak dan tid ak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran dan penolakan atau penerimaan korban atas perilaku tersebut dijadikan sebagai bahan pertimbangan baik secara implisit maupun ekplisit dalam membuat keputusan menyangkut karir atau pekerjaanya, menganggu ketenangan bekerja, mengitimidasi, dan menciptakan lingkungan kerja yang tidak aman dan tidak nyaman bagi si korban.



Konsepsi kekerasan menurut KUHP, sebagaimana tertuang dalam pasal 289 KUHP, diartikan membuat orang pingsan atau tidak berdaya. Apakah suatu penggunaan kekerasan harus menimbulkan rasa sakit dan luka, pingsan atau tidak berdaya. Pengertian tersebut diatas hanya memberikan penjelasan penggunaan kekerasan secara fisik, padahal masih ada bentuk penggunaan kekerasan secara psikis seperti pada pelecehan seksual, hal ini tidak terangkum dalam KUHP. Demikian juga kejahatan seksual dalam RUU KUHP terdapat pada bab Tindak Pidana Kesusilaan dalam mencakup 56 pasal (467 -504), Selain itu penggunaan istilah dalam tindak pidana perkosaan dan pecabulan tetap mengunakan kata persetubuhan. Hal ini akan membuat tindak pidana perkosaan tipis bedanya dengan pencabulan yang akan menyebabkan kasus perkosaan akan menjadi kasus pencabulan bila tidak ditemukan bukti-bukti adanya kekerasan atau perlawanan dari korban.

Intinya : "Pelecehan seksual yang sering terjadi tidak dapat dijerat pelakunya karena tidak mencukupi unsurnya untuk kasus pencabulan atau perkosaan". Menggunakan pasal -pasal yang tidak relevan dengan kasus sehingga tidak memberikan keadilan dan mereduksi nilai kekerasan yang dialami oleh perempuan, misalnya kasus pelecehan seksual menjadi kasus pencabulan. Dalam masyarakat, perempuan dianggap merupakan “milik” masyarakat. Sehingga setiap tingkah lakunya dikontrol yang menyebabkan perempuan kehilangan kendali atas tubuh dan bahkan jiwanya. Dalam kondisi seperti ini perempuan berada dalam posisi yang rentan terhadap kekerasan seksual yang dilakukan oleh individu maupun komunitas serta sulit terbebas dari siklus kekerasan yang terjadi tersebut. sumber



Demikian tadi sedikit tentang pelecehan seksual secara teori dan hukum di Indonesia. Menghindari pelecehan seksual ditempat umum memang tidak mudah, tapi bisa diminimalisir dengan penggunaan pakaian yang "sopan" atau tidak memancing gairah atau bisa juga bepergian selalu ditemani oleh muhrimnya. Meskipun itu belum menjamin terhindar dari tindakan tersebut. Tapi paling tidak itu merupakan jalan terbaik yang bisa dilakukan, karena belum ada "polisi khusus pencegah pelecehan seks di tempat umum" hehehe. Atau pemerintah seharusnya lebih mengetatkan peraturan di tempat umum, misal bis kota yang harus mengangkut penumpang sesuai kapasitas kursi yang tersedia hingga tidak terjadi kepadatan yang sangat berpotensi terjadi pelecehan seksual. Semoga bermanfaat : ).

2 comments:

  1. Salam kenal Dik.. tukeran link yukk. link Anda sdh saya add ke blog saya .. trims..

    ReplyDelete
  2. iya...kadang prakteknya gak sesuai dg hukum yg berlaku.

    ReplyDelete