Rekening & Celengan

Saat ini lagi heboh soal rekening "gendut" jenderal dan protes penyimbolan masalah tersebut dengan gambar babi berwarna pink hehe. Sebagai orang awam, kita tentu berharap apapun itu dapat terungkap kebenarannya. Karena ini tidak hanya menyangkut masalah "nama baik" atau citra tetapi juga bicara soal kejujuran. Kejujuran yang "seharusnya" dipegang teguh para pemimpin di negeri kita ini.

Melihat nominal di rekening "gendut" tersebut hanya bikin ngiler kita yang punya rekening "sangat kurus" hehehe. Membayangkan kapan bisa punya rekening segendut itu. Mungkin kalau mau berusaha dengan "jujur" butuh puluhan tahun untuk mengendutkan rekening kita atau bahkan yang lebih parah malah tidak berubah bahkan habis :). Melihat kenyataan yang ada, bila kita diposisi seperti mereka atau punya kesempatan yang sama, "mungkin" tidak akan atau sulit menolak "rejeki" nomplok seperti itu, Wallahu 'alam :).

Kalau mau ditelusuri kenapa bisa terjadi hal-hal seperti itu, tentu tak lepas dari masalah "duit" "keserakahan" dan "kesempatan". Kalau dihubungkan dengan besarnya gaji perbulan tentu akan ada banyak alasan yang mengatakan kalau itu tidak cukup, sesuai dengan sifat dasar manusia yang tidak pernah puas. Mencari bukti yang valid untuk pembuktian kasus tersebut tentu bukan pekerjaan mudah, apalagi yang dituding adalah para pejabat dan peristiwa itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Apakah kasus ini akan terus berlanjut ? atau hanya akan menjadi "berita utama" sesaat yang bisa menaikkan oplah penjualan ? entahlah.

Selain itu mengenai gambar babi pink yang dianggap melecehkan, menurutku itu terlalu dibesar-besarkan. Siapapun bisa menilai maksud dari gambar babi tersebut, dimana ditujukan pada 'rekening' yang dipermasalahkan. Bukan ditujukan pada gambar perwira berseragamnya. Lebih tepatnya gambar babi pink itu artinya = rekening = celengan berwarna pink hehehe . Lain kalau kepala perwira berseragam tersebut diganti dengan kepala babi, itu baru jelas melecehkan :). So disini terlihat ada kesan "mencari" kesalahan atau "melebih-lebihkan" sesuatu .

Ah begitulah kalau kita merasa kuat terus ada yang coba mengusik, tentu segala cara dilakukan untuk membalas orang yang mengusik kita tadi. Ibaratnya "Gue preman disini, jangan macem-macem ama gue!!! entar tau rasa loe!!!". Yah semoga saja tidak terjadi seperti itu, sebagai orang yang beragama kita tidak boleh berburuk sangka pada orang lain sebelum benar-benar terbukti kesalahannya tapi waspada atau berhati-hati tentu itu harus :).

Comments

  1. duh kok buwel gak begitu paham neh topik ini... Maaf mas Aulawi, no comment... hihihi

    ReplyDelete
  2. duh chen kok ngannggone buwel sih.... :-(

    ReplyDelete
  3. piye toh, kok isa salah jeneng wkwkwkw

    ReplyDelete
  4. jadi inget celengan kucing dari tanah liat yg kumiliki wkt kecil. hehehe.apa kabar?

    ReplyDelete
  5. saat seseorang merasa di pojokan, mereka akan berusaha mencari kesalaan seekecil apapun.
    seperti contoh celengan babi-pink, mereka anggap sebagai hinaan.

    Mungkin ini bukti, kesensitifitas an mereka, menandakan mereka dalam keadaan terpojok =D

    ReplyDelete
  6. dulu aku punya celengan babi...
    hihihihi
    paling senang kalo saat menghancurkannya
    hehehehe

    (^__^)

    ReplyDelete
  7. jadinya kog rancu yah, masalahnya apa... yang dibahas apa.

    ReplyDelete
  8. @All : ini tentang Tempo vs Polri yang menyangkut indikasi rekening gendut perwira :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts