Ketulusan Dalam Membangun Klub Sepakbola

Sebuah klub sepakbola pada dasarnya adalah sebuah "perusahaan" , dimana pemain adalah sebagai karyawannya. Dimana yang sedikit membedakan dengan perusahaan biasa adalah tidak ada status "karyawan tetap" bagi para pemain. Selain itu sumber pemasukan perusahaan sangat tergantung dengan sponsor, penjualan pemain, ticket pertandingan dan penjualan aksesoris klub. Untuk klub besar di luar negeri seperti Manchester United, sumber pemasukan sudah bukan masalah lagi, terutama dari hasil penjualan ticket, hak siar TV, merchandiser dan sponsor.

Bagaimana dengan Klub sepakbola di Indonesia ? Seperti kita ketahui di negeri tercinta ini sejak dulu banyak klub sepakbola yang mewakili daerah masing-masing, seperti Persebaya, Persija, Persib atau juga SFC. Sumber pendanaan mereka selama ini sebagian besar berasal dari dana APBD masing-masing. Namun tidak semua provinsi atau daerah yang mampu konsisten membiayai karena keterbatasan dana APBD mereka, sehingga tidak heran jika banyak klub yang tak mampu membayar gaji pemainnya bahkan hingga harus meminjam (berhutang) pada pihak lain. Kesalahannya adalah karena dana APBD tersebut bukan dijadikan modal awal tapi dijadikan sebagai salah satu "sumber pemasukan".

Untuk itulah sebelum kompetisi ISL 2009/2010 lalu, PT Liga Indonesia (PT LI) mewajibkan bagi klub yang akan ikut harus memenuhi 5 aspek berikut, yaitu:

1. Aspek Legal, merupakan pernyataan tentang bentuk badan hukum.
2. Aspek Sporting, merupakan program pengembangan pemain usia muda
3. Aspek Infrastruktur, merupakan ketersediaan stadion untuk kompetisi
4. Aspek Personil dan Administrasi, merupakan sekretariat klub dan ofisial tim
5. Aspek Finansial, merupakan laporan keuangan klub dan keuangan masa depan.

Kelima aspek itu adalah standarisasi sebuah klub profesional. Artinya bila benar-benar diterapkan dengan "baik" dan "benar" dapat memecahkan masalah sumber pemasukan klub. Sehingga klub sepakbola di negeri kita ini mampu "mandiri" dan memiliki "nilai jual".

Tapi ada satu masalah yang bisa menganggu stabilitas bahkan "keberadaan" klub sepakbola di suatu daerah, yaitu ketika terjadi pergantian pemimpin daerah tersebut. Sudah bukan rahasia lagi jika "keberadaan" klub sepakbola yang mewakili daerah tertentu tidak terlepas dari "siapa" yang memimpin daerah tersebut.

Diakui atau tidak, Klub sepakbola yang mewakili daerah tertentu bisa jadi "alat"promosi atau tolak ukur keberhasilan "kepemimpinan" seorang kepala daerah :). Artinya "kinerja" manajemen klub sepakbola daerah bisa sangat tergantung masa periode jabatan sang pemimpin hehehe. Bayangkan jika orang tersebut tidak terpilih lagi, apakah mereka akan tetap bekerja maksimal membangun klub tersebut ?

Kita memang tidak boleh berburuk sangka, tapi kenyataannya sudah banyak terjadi dan ini salah satu masalah yang harus diselesaikan dan dipertegas seberapa besar "komitmen" manajemen suatu klub dalam membangun klub mereka untuk menjadi "besar" dengan "ketulusan" :). Kalau semua ini masih tergantung dengan hal-hal tersebut, tak akan pernah klub di negeri ini bisa jadi "real company" atau bisa sebesar MU dan Real Madrid :).

Comments

  1. sebetulnya aku bukan penggila bola, tapi walau bgmnpun aku tetap mendukung kemajuan persepak-bolaan di Indonesia agar bisa seperti di negara2 luar..

    ReplyDelete
  2. memang perlu penanganan serius neh, biar bisa maju, mungkin sebenernya bila ada ilmu manajemennya dan digarap dengan kejujuran dan jiwa pengabdian yang tulus tentu bisa besar sebuah klub bola..

    ReplyDelete
  3. berarti sepak bola indonesia bakalan masih lama dunk kang berlaga di piala dunia?!?! byuuhhhh byuhhh :(

    ReplyDelete
  4. Berharap klub sepak bola kita seperti klub besar di Eropa rasanya berlebihan, mentalitas kita secara umum tak mendukung. Setidaknya selama saya masih hidup :D

    ReplyDelete
  5. @All : membangun klub saj kita belum konsisten apalagi tim nasional hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts