Sarjana Pengangguran


Menjadi seorang sarjana, adalah pencapaian yang cukup membanggakan bagi sebagian orang. Apalagi jaman dulu, dimana sarjana adalah strata pendidikan yang sangat "membanggakan" karena tidak semua orang bisa meraihnya. Memang tidak mudah menjadi sarjana (Real Scholar), karena butuh uang, waktu dan kemauan belajar yang sungguh-sungguh. Meskipun itu "sarjana asal" (Faked Scholar) tetap tidak mudah karena butuh uang dan kesempatan untuk membeli nilai atau ijazah palsu hehehe.


Sebelumnya Apakah pengertian sarjana itu? Ada beberapa definisi dari Sarjana, antara lain Sarjana adalah lulusan akademik atau perguruan tinggi yang menempuh jenjang studi berdasarkan spesifikasi jurusan tertentu, Sarjana juga bisa berarti seorang yang lulus dari perguruan tinggi dengan membawa gelar, Sarjana adalah seseorang yang mempunyai secarik kertas yang dikeluarkan oleh lembaga pendidikan yang formal. (dari berbagi sumber). Hehe sungguh definisi yang sederhana namun "menyentil".


Saat ini ada jutaan lulusan sarjana (S-1) di negeri tercinta ini. Jumlah itu akan semakin bertambah dan terus bertambah seiring peingkatan pendapatan, kemajuan ilmu dan teknologi. Kenapa saat ini banyak sarjana yang menganggur atau bekerja tidak sesuai jurusan yang dia ambil? Ini pertanyaan retoris karena semua orang sudah tahu jawabannya :). Tapi ada beberapa pendapat yang mengatakan semua itu tidak terlepas dari "kualitas intelektual" seorang sarjana. Artinya "kebanyakan" titel sarjana hanya sebagai gelar semata tapi tidak diiringi dengan "kualitas" yang mumpuni baik itu dari segi mental, kemampuan dan kreatifitas. sumber


Menurutku itu bisa jadi benar, tapi tidak semua terjadi karena lemahnya "kualitas intelektual" seorang sarjana, karena pada dasarnya semua orang punya kemampuan dan bisa menjadi apa saja (yang membedakan hanya outputnya). Dan sudah bukan rahasia lagi mendapatkan pekerjaan disebuah perusahaan besar bukan hanya dilihat berdasarkan faktor kualitas intelektual seseorang. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya dan tak perlu disebutkan disini :).


Kalau begitu siapa yang salah? hehe tentu banyak yang bisa dipersalahkan atau dijadikan kambing hitamnya. So kita tak perlu membahas lagi siapa yang salah tetapi kembali ke diri kita masing-masing dalam menyikapi kondisi yang ada. Yang pasti sebagai seorang sarjana kita harus bisa mengambil sikap dalam bagaimana menghadapi tantangan persaingan yang semakin tinggi dan menentukan solusi apa yang tepat untuk mengatasi permasalahan itu. Sebagai seorang sarjana kita tentu punya wawasan berpikir yang luas dalam arti tidak memandang suatu masalah hanya dari satu sisi saja. So nasib tidak akan berubah jika kita tidak berusaha merubahnya, semoga bermanfaat :).

Comments

  1. biar nggak ada kerjaan tetap tapi kalo buka warung kopi kan tetap nggak bisa dikatakan pengangguran

    ReplyDelete
  2. bener banget tapi ini bukan ngomongi aku sist, tapi sebagai motivasi aj buat yg lain hehe

    ReplyDelete
  3. tidaklah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, tidaklah sama lulusan sarjana dengan lulusan TK. siapapun tak ingin menjadi pengangguran, semua orang ingin berpenghasilan,namun terkadang kesempatan yang belum bertemu. sabar dan teruslah ikhtiar bagi yang belum mendapatkan pekerjaan, syukuri apa yang didapat hari ini.
    menyambut datangnya bulan suci ramadhan, saya atas nama pribadi dan juga keluara mohon maaf yang setulus ikhlasnya atas segala kesalahan, kekhilafan, kekurangan dalam setiap postingan, komentar ataupun tanggapan. sungguh, tiada maksud untuk melakukan itu, namun sebagai manusia yang lemah, tak luput dari salah, sebagai hamba yang dhoif, tak lepas dari khilaf. Selamat menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya, semoga Ramadhan kali ini bisa kita gunakan sebaik mungkin untuk meningkatkan amal ibadah baik secara kualitas maupun kuantitas, amin. Dan semoga, gelar muttaqin benar-benar menjadi milik kita,amin.

    ReplyDelete
  4. sarjana juga gak menjamin dpt pekerjaan sih

    ReplyDelete
  5. Banyak sekarang sarjana yang menggunakan komputer saja nggak bisa. Nulis nggak bisa. Padahal jaman IT begini.

    ReplyDelete
  6. kalo cari makan kudu harus sarjana pasti semua hewan dunia mati semua kelaparan... he

    ReplyDelete
  7. mungkin memang perlu sosialisasi kalo gelar sarjana itu bukan gelar untuk meraih profesi... :-)

    ReplyDelete
  8. hiuk..hik..hik..
    aku masih semester tua nih..
    stress rasanya..

    ReplyDelete
  9. Lapangan kerja makin sempit saja saat ini, alangkah baiknya jika kita mampu menciptakan sendiri lapangan kerja bagi diri sendiri dan juga orang lain.....

    Sekalian mau ngucapkan Selamat menjalankan ibadah puasa... mohon maaf lahir dan batin

    ReplyDelete
  10. pendidikan tidak menjamin seseorang untuk mendapatkan pekrjaan.

    ReplyDelete
  11. Setuju dengan komentar Abi sabila ....

    ReplyDelete
  12. jadi ingat lagunya bang Iwan, titlenya sarjana muda..

    ReplyDelete
  13. 8 bulan yang lalu,
    seperti dalam judul blog ini,
    jadilah saya sarjana dan sampai saat ini
    ijazah sarjana masih dikampus, saya merasa masih tidak pantas mendapatkan gelar tersebut, jadi biarlah gelar itu tertinggal di kampus

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah, akhirnya... aku bisa hadir lagi disini setelah beberapa lama "dihilangkan" hehehe

    ReplyDelete
  15. pemuda indonesia masih belum tau harus kemana dan apa yang menjadi tujuan untuk negaranya..

    Belum

    ReplyDelete
  16. Jadi sarjana artinya kita harus siap mengaplikasikan ilmu dimana saja, terlepas dulu dai pengertian profesionalisme, langkah pertama haruslah bisa menggeser income dari orang tua dengan income diri sendiri.

    Menjadi sarjana bukan merupakan aib, atau pahala juga bukan 100% betulnya, tinggal kita yang ingin berbuat untuk diri sendiri dulu, bangga pada diri sendiri baru kita bisa bikin bangga orang lain.

    Tentu rekan-rekan juga paham betula apa perbedaan antara gambler dengan pengusaha, sama-sama juga meraba-raba keberuntungan, tetapi pengusaha memakai data dan informasi dalam mengambil keputusan, sedangkan gambler tidak.

    Itu juga berlaku bagi title sarjana, seorang sarjana pastilah terbekali dengan yang namanya kemampuan sosialisasi, analisa dan kematangan kepribadian. Hal ini tidak ada pada sekolah ditingkat di bawah perguruan tinggi, kalaupun seseorang dewasa, cakap dalam mengambil keputusan, tepat analisanya bisa jadi dia memang pas dalam mengambil sinyalemen-sinyalemen dari lingkungannya.

    Hal ini yang sering kita tidak sadari sebagai seorang sarjana, secara keilmuan saya sendiri merasa tidak obanya dengan anak sma, karena saya memang dari sma, tetapi banyak hal yang saya lupa kalau saya memiliki pengalaman dalam berorgansasi, bahkan berorasi. Dengan kecakapan itu rupaya saya mampu memberikan satu hal bagi kebanggaan diri saya.

    Satu hal lain yang mungkin kita lupa ialah keterbukaan diri akan perubahan, orang sering lupa kalau semua harus berubah dan beregenerasi... bahkan juga banyak yang stress menghadapi perubahan.

    salam buat anda para sarjana yang mulai bangga dengan kesarjanaan..... sarjana bukan semata-mata title atau ijasah, tetapi adalah kehendak untuk mandiri dan beradaptasi dengan lingkungan....

    bersama saya
    barus sang trading snack dari sidoarjo
    hub. indah.barus@rocketmail.cm

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts