Toleransi ala anak SMP


SMP adalah tingkatan sekolah menengah yang pertama, menengah dalam arti mendapat atau mempelajari ilmu yang lebih lanjut daripada sekolah dasar. Usia para pelajar SMP diantara 13 sampai dengan 16 tahun, usia remaja (remaja tanggung) yang rentan dengan berbagai pengaruh dan perubahan, baik itu dari segi akhlak (moral), Sexual, bahkan penampilan :).

Saking rentannya, jika disuruh memilih, aku lebih suka mengajar (menjadi Dosen) mahasiswa dibanding harus mengajar di SMP ataupun SMA hehe. Kenapa begitu ? yah berdasarkan pengalamanku (Asisten Dosen) mengajar mahasiswa lebih simpel karena kita sebagai dosen sifatnya lebih "mengarahkan" bukan "mengajari" ilmu yang akan kita bagi :). Selain itu rata-rata mahasiswa punya "ego" yaitu "merasa bisa" dan "tahu", dimana ego ini adalah "kelemahan" yang membuat mereka jadi tidak banyak bertanya dan merasa sudah tahu ketika baru sekali dijelaskan hehehehehe.

Itu semua pendapatku saja dari pengalaman dan observasi pribadi, so orang lain pasti punya pendapat yang berbeda :). Disini kita lagi membahas tentang SMP sehubungan dengan Gerakan SEO Positif SMP dan SMA yang dihibahkan oleh Neng Khusnul Khotimah kepadaku :). Gerakan ini diadakan untuk melawan penyalahgunaan SEO, terutama dengan kata kunci SMP yang sebagian besar selalu berhubungan dengan pornography :).

Bicara soal pengalaman masa SMP, tentu banyak yang telah terjadi dan berkesan. Dulu aku sekolah di SMPN 12 Palembang (semester 1) kemudian pindah ke SMPN 2 Sungailiat Bangka, dari kedua SMP tersebut ada banyak perbedaan yang kurasakan, terutama dalam soal latar belakang asal daerah dan agama siswanya. Di SMPN 12 Palembang rata-rata semua siswa asli dari Palembang serta beragama Islam, namun di SMPN 2 Sungailiat sangat beragam, ada yang keturunan Palembang, Bangka asli, Batak, Cina, Jawa, Sulawesi, Riau bahkan Belanda, serta beragama Islam, Katolik, Protestan, Kong hucu, dan Budha :).

Kondisi tersebut tidak membuat kami terpecah, meski tetap ada "insiden" kecil yang lebih mengarah ke kenakalan remaja, seperti menyebut marga atau perbedaan secara phisik hehe. Namun secara umum semua itu malah membuat kami lebih dekat dan tidak pernah mempermasalahkan asal usul nenek moyang atau agama yang kami anut. Terus terang "perbedaan" dan "keragaman" itu menimbulkan kesan yang sangat mendalam bagiku :).

Kadang heran juga dengan kondisi yang terjadi saat ini, dimana "toleransi antar umat beragama" banyak dipertanyakan ???...padahal kalau mau di telusuri lebih lanjut sebenarnya "ketidaktoleran" itu lebih banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur diluar keyakinan. Artinya semua itu terjadi lebih karena unsur politis, ekonomi, ego dan nafsu...

So mungkin model toleransi ala anak SMP atau "pola pikir toleransi" anak SMP patut ditiru dan diterapkan, karena dulu, "sehebat-hebatnya kita bertengkar dan berselisih paham" selalu diakhiri dengan perdamaian :). Artinya tidak sampai mendendam atau berkelanjutan hingga anak cucu hehehe. Itu terbukti ketika perayaan hari raya agama masing-masing, dimana kita saling bersilaturahmi penuh dengan persaudaraan.

Mungkinkah diterapkan ? tentu saja mungkin, karena pada dasarnya bangsa kita ini punya rasa persaudaraan yang tinggi, bahkan mungkin lebih baik dibanding negara-negara lain. Tinggal bagaimana kita menentukan sikap agar tidak terpengaruh "provokator" yang mengatasnamakan atau bertopeng "keadilan", "politik", "agama" bahkan "cinta" yang berniat mencerai beraikan "rasa persaudaraan" yang seharusnya menjadi ciri khas bangsa kita selama ini. Semoga...


Comments

  1. setuju sobat,... persaudaraan memang penting,,, :),, hmm,,,semngat,,!! ^^

    ReplyDelete
  2. Kalo gt q tak kul ama km ae mas :P, tp q tak kyk ank smp :p
    berani ?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts