Implementasi CCPL di Indonesia (Pengurangan emisi gas)

Usaha pemerintah untuk mengatasi perubahan iklim global menyebabkan pemerintah harus berhutang lagi :). Jumlah hutang yang bersumber dari Climate Change Program Loan (CCPL) hingga tahun 2010 diperkirakan sebesar US$ 1,9 miliar. Hutang yang sungguh besar, namun "belum" kelihatan hasil nyatanya hehehe...



Namun tulisan ini tidak ingin membahas soal hutang tapi tentang pelaksanan CCPL itu sendiri dan bentuk implementasinya di negara kita ini. Apakah tujuan dari CCPL ? CCPL bertujuan untuk meningkatkan mitigasi perubahan iklim melalui penguatan pengendalian terhadap emisi. CCPL juga bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dalam merespon dampak negatif perubahan iklim dan meningkatkan kegiatan lintas sektoral dengan mendukung pelaksanaan rencana aksi pemerintah melalui dialog kebijakan. Salah satu outcome CCPL adalah implementasi program climate change di seluruh kementerian atau lembaga terkait dalam mendukung target nasional yaitu pengurangan emisi gas CO2 sebesar 26 persen sampai tahun 2020.



Kenapa pengurangan emisi gas CO2 menjadi target nasional? Pada prinsipnya, gas CO2 sangat bermanfaat dalam menopang kehidupan bumi. Di atmosfer, keberadaan gas CO2 merupakan bahan fotosintesis tumbuhan hijau dan sifat rumah kacanya menjaga kesetimbangan suhu bumi. Namun akibat banyaknya proses industri dalam ruang tertutup menggunakan gas CO2 menyebabkan konsentrasi yang semakin meningkat di atmosfer, sehingga pemanasan global semakin tinggi.



Selain itu dalam proses pembentukan CO2, banyak senyawa lain yang ikut dihasilkan dan perubahan fisik yang terjadi. Senyawa selain CO2 dan perubahan fisik inilah sebenarnya yang berpotensi lebih berbahaya dibandingkan dengan C02-nya sendiri. Senyawa-senyawa tersebut adalah : Senyawa gas monoksida (CO), hidrokarbon (HC), metan (CH4), dan partikulat (asap, abu, jelaga). Dimana gas CO bersifat polutan yang membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian, demikian juga hidrokarbon. Partikulat karbon merupakan polutan yang berdampak buruk pada kesehatan mata dan pernapasan, terutama jika ukurannya kurang dari 10 m karena partikulat berpotensi masuk ke sistem peredaran darah.



Semakin padat bentuk bahan bakar maka akan semakin banyak unsur karbon yang terbentuk menjadi selain CO2 yang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan CO2. Oleh karena itu konversi atau pengalihan penggunaan minyak tanah ke gas adalah salah satu usaha pemerintah untuk mengurangi emisi. Dimana konversi ini sangat baik untuk memperbaiki lingkungan udara karena gas memiliki efisiensi pembakaran paling tinggi, hampir 100 persen, maka hanya sedikit sekali unsur karbon yang terbentuk menjadi CO ataupun hidrokarbon dan partikulat. Gas juga tidak ada unsur sulfur yang akan membentuk polutan SO2.



Dampak lain dari pembakaran bahan bakar adalah sebagai berikut :

  • Pembakaran bensin untuk kendaraan bermotor ada partikulat timbal. Unsur sulfur dalam solar, batu bara, dan biota menjadi sumber SO2 yang mengganggu sistem pernapasan dan iritasi mata, dan juga sistem transportasi karena berkurang jarak pandang.
  • Panas yang tinggi pada proses pembakaran menjadi sumber NOx (NO dan NO2). Unsur nitrogen dalam biomasa terbakar menjadi senyawa nitrogen yang berbahaya juga seperti NOx, NH3, dan N2O.
  • Bahan bakar solar, batu bara, dan biomasa mengandung sulfur yang apabila dibakar membentuk senyawa SO2.
  • NOx dan karbon monoksida (CO) merupakan precursor ozon (O3) di atmosfer bawah. Ozon pada atmosfer bawah, selain bersifat polutan juga merupakan gas rumah kaca. SO2, NH3, dan NOx berdampak pada pembentukan hujan asam.
  • Debu partikel selain menyebabkan iritasi mata dan gangguan penglihatan karena berkurang jarak pandang
  • Partikulat dengan ukuran kurang dari 10 m dapat masuk ke dalam sistem pernapasan dan akhirnya ikut dalam peredaran darah. Jika partikulat itu timbal yang masih ada dalam bensin kita, maka akan menyebabkan gangguan ginjal dan menurunkan kecerdasan anak. Bahkan timbal ini terakumulasi dalam darah sehingga anak yang dikandung atau disusui oleh ibu yang tercemar timbal akan berisiko ber-IQ rendah.
  • Deforestasi yang dituding menyumbang 23 persen emisi CO2, memiliki dampak negatif lain yang seharusnya mendapat perhatian. Dampak pertama dari deforestasi adalah berkurangnya keanekaragaman hayati, berkurangnya kesuburan tanah, siklus hidrologi terganggu sehingga berdampak pada bencana banjir dan tanah longsor saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau. Perubahan lahan akibat deforestasi juga berdampak pada kenaikan suhu udara yang dikenal sebagai urban heat island. sumber

Demikian tadi alasan pengurangan emisi gas menjadi target utama pemerintah dalam mengatasi perubahan iklim global yang terjadi saat ini, dimana biayanya didapat dari program CCPL sehingga pemerintah harus menanggung hutang sebesar itu. Semoga semua itu tidak sia-sia dan uang hasil pinjaman itu tidak dikorupsi sehingga manfaatnya akan terasa terutama bagi anak cucu kita nanti. Semoga :).

Comments

Popular Posts