Parameter Ketegasan (Dalam menindak kerusuhan)

Kerusuhan yang terjadi beberapa bulan ini sungguh sangat memprihatinkan kita, kerusuhan terjadi dimana-mana. Seperti kerusuhan yang terjadi di Tarakan, di Buol sulawesi tengah, kerusuhan di jalan ampera jakarta dan sebagainya. Dimana kerusuhan-kerusuhan tersebut menimbulkan banyak korban jiwa manusia. Mungkin masih kuat di ingatan kita tentang kerusuhan antar etnis di Sampit kalimantan tengah, yang mengakibatkan ratusan jiwa melayang sia-sia dengan kondisi mengenaskan, tidak peduli orang dewasa dan anak kecil. Sungguh jangan sampai peristiwa seperti itu terulang lagi di negeri tercinta ini.

Kenapa kerusuhan "mudah" terjadi ? Ada beberapa pendapat para ahli yang mengatakan kerusuhan mudah terjadi karena "kurang tegasnya aparat keamanan (polisi)" dalam menangani suatu kerusuhan. Kurang tegas disini maksudnya tidak ada ketegasan dalam menindak, mencegah dan menangkap para pelaku kerusuhan. .
>
Ada juga pendapat lain seperti kata pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar, kerusuhan berdarah di Jalan Ampera Raya, Tarakan, dan beberapa tempat lainnya terjadi karena polisi masih bekerja sendiri-sendiri menjaga keamanan. Akibatnya, polisi kurang mampu menerjemahkan data-data intelijen mengenai kemungkinan penyerangan atau kerusuhan

Tapi, pendapat-pendapat itu bisa kurang tepat juga jika kita melihat korban jiwa yang tewas dalam kerusuhan di Buol, dimana polisi bertindak "terlalu tegas" hingga menyebabkan beberapa perusuh tewas di kerusuhan tersebut.
Jadi apa parameter "ketegasan" dalam menangani suatu kerusuhan ? Seperti kita ketahui, meredakan suatu kerusuhan yang tengah terjadi bukan hal yang mudah. Untuk itulah ada satuan polisi khusus untuk menangani kerusuhan yaitu "pasukan anti huru hara" (PHH) dan "pasukan pengendalian massa (Dalmas). Mereka dibekali senjata dan peralatan khusus untuk menangani kerusuhan, seperti pentungan, tameng, helm, baju-baju rompi PHH, dan lain-lain. Selain itu mereka juga dilengkapi kendaraan taktis dengan penyemprot air, gas air mata bahkan senjata berpeluru karet. Peralatan itu diniatkan untuk melumpuhkan, bukan untuk mematikan atau memusnahkan. Sehingga parameter ketegasan itu adalah bertindak tegas membubarkan, dan menangkap para perusuh yang sudah bertindak anarkis dengan cara menembakkan gas air mata atau yang paling ekstrim menembak dengan peluru karet tanpa harus menimbulkan korban jiwa.

Intinya kerusuhan-kerusuhan yang terjadi "seharusnya" bisa dibubarkan tanpa adanya korban jiwa. Tapi kenapa masih banyak terjadi kerusuhan yang mengakibatkan korban jiwa ? Yah ada banyak kemungkinan jawaban, antara lain :
  • Mungkin karena jumlah polisi anti huruhara/Dalmas terbatas hingga tak mampu meredam kerusuhan
  • Polisi anti huru hara/Dalmas terlambat datang ke lokasi kerusuhan
  • Yang menangani kerusuhan bukan satuan khusus anti huru-hara, tapi satuan lain yang bersenjatakan peluru tajam
  • Perkelahian antar perusuh yang menggunakan senjata tajam bahkan senjata api
  • etc

Semua opsi tadi bisa jadi penyebab semua itu. Ada pepatah yang mengatakan "mencegah lebih baik daripada mengobati", dan memang akan lebih baik jika kerusuhan itu dicegah sebelum terjadi. Dan itu adalah tugas dari para intelijen kepolisian serta juga dibantu peran masyarakat yang mau menyampaikan info tentang hal-hal yang berbau kerusuhan :). Namun secara praktek memang itu sulit diterapkan karena kompleksitas permasalahan dan keterbatasan yang ada. Selain itu kerusuhan bisa terjadi karena spontanitas atau tidak terencana. Walaupun awal permasalahan bisa disebabkan hal-hal yang telah lama terjadi selama ini.



So menyalahkan atau mencari kesalahan orang atau pihak-pihak tertentu itu memang mudah hehe, mungkin akan lebih baik jika masing-masing pihak (yang terkait) lebih banyak intropeksi diri dan mau memperbaiki jika memang salah. Semoga kedepan bisa lebih baik :).

Comments

Popular Posts