Bencana & Politik

Pada tahun 2010 ini, bencana alam seakan bertubi-tubi datang ke negeri kita tercinta ini, mulai dari banjir di Wasior Papua, gempa dan tsunami di Mentawai, serta letusan gunung Merapi di DIY Yogyakarta. Semua itu membuat pemerintah dan pihak-pihak terkait saling bahu membahu membantu para korban. Bantuan yang datang tak hanya dari dalam negeri tapi juga dari luar negeri.

Namun ada satu "fenomena" yang menarik yaitu mengenai pihak-pihak yang membantu para korban bencana. Terutama yang membantu dengan membawa nama partai politiknya. Semua itu jelas terlihat dari lambang-lambang yang digunakan di posko bantuan yang mereka dirikan. Meski Pemerintah daerah istimewa Yogyakarta sudah meminta mereka untuk mengganti lambang-lambang itu dengan bendera merah putih tapi mereka menolak dengan alasan sebagai bentuk "balas budi" terhadap para korban yang telah memilih partai mereka pada waktu pemilu dulu.

Memang tidak salah jika mereka tetap memakai "identitas" partai mereka tetapi kalau bicara soal "ketulusan" tentu maknanya akan berbeda. Apalagi bagi para korban atau pengungsi itu sendiri, dimana mereka dalam kondisi "membutuhkan" bantuan yang ikhlas dari orang lain. Dalam kondisi tersebut tentu mereka tidak akan sempat melihat atau berpikir siapa dan darimana yang membantu, yang penting mereka merasa diperhatikan dan dilindungi.

Artinya dalam kondisi bencana seperti itu, pihak-pihak yang membantu seharusnya "mengalah" dulu untuk tidak membawa nama partai mereka apalagi dengan umbul-umbul atau poster besar sehingga terlihat "jelas" darimana mereka berasal :). Ada satu pertanyaan yang mungkin bisa menjadi bahan pemikiran kita semua, yaitu kenapa kita membantu orang lain ?

Ada satu jawaban yang pasti yaitu kita membantu orang lain bukan karena alasan tertentu tapi hanya karena "ingin" atau "spontanitas". Kita ingin membantu atau spontanitas kesadaran sebagai manusia yang memiliki hati nurani. Misal di dekat kita ada orang yang akan jatuh, secara spontan tentu kita akan langsung mengulurkan tangan untuk membantu memegangnya agar tidak terjatuh. Kalau ditanya kenapa kita membantunya? tentu tidak akan ada jawaban pasti karena itu sipatnya spontan :).

Nah "ingin" dan "spontanitas" inilah yang seharusnya menjadi dasar kita membantu orang lain. Bukan karena membawa nama partai, lembaga atau sekedar memenuhi kewajiban tugas apalagi untuk "balas budi". Tapi memang sipat dasar manusia itu sudah banyak tergantikan oleh hal-hal yang bersifat "untung dan rugi". Apalagi jika bicara hal-hal yang berbau politik, dimana "keikhlasan" dan "spontanitas" bukan suatu yang wajar lagi. Semua hal dilihat hanya berdasarkan untung dan rugi serta segala cara dilakukan untuk membuat orang percaya dan menuruti kemauan kita meskipun harus berkedok "kemanusiaan".

Walaupun kita tidak boleh berburuk sangka :), tapi kenyataan memang bicara begitu dan ini sudah bukan rahasia umum lagi bahwa "keikhlasan" dalam dunia politik sudah tergantikan oleh "kemunafikan" yang ujung-ujungnya untuk menarik perhatian orang lain atau demi kepentingan partai itu sendiri. Semoga kedepan bisa lebih baik dan bencana yang terjadi di negeri kita ini segera berakhir..amin.

Comments

  1. memang negara ini harus banyak didoakan
    bukan hanya masalah bencananya
    tapi juga pejabat2nya

    ReplyDelete
  2. Yah , begitulah kelakuan para parpol, maunya apa-apa dipolitisir. Sampai-sampai bencana saja dimanfaatkan untuk kampanye, menyebalkan! Semoga derita di Yogya dan sekitarnya segera berakhir berganti ceria dan berkah di bumi pertiwi, amin. Salam Http: Ruangkatatiti.blogspot.com dan Http://Jendelakatatiti.wordpress.com dan Kompasiana.com bude binda.

    ReplyDelete
  3. sorry baru berkunjung......akankah segalanya masih menyisahkan harapan untuk sebuah kehidupan?

    ReplyDelete
  4. miriss sekali sob..
    saya cuma mau nanya nih...
    gmana dengan para mahasiswa yang membawa nama kampusnya????

    ReplyDelete
  5. Setuju sekali sobat. seharusnya memang dalam membantu seseorang jangan dibumbui dengan embel2 ini dan itu. Nanti orang berpikir ada udang dibalik aa gitu. Hmmm... ternyata pemilik blog warung coffe kemang ini sama dengan pemilik DE Javu ya. Baru tahu nih...

    ReplyDelete
  6. sebagian besar parpol memang punya 'misi' tertentu dalam membantu korban benacana. tapi tentu tak semua berniat seperti itu! mungkin saja parpol itu memang benar2 pengen membantu dan kebetulan dananya pun dana parpol..tapi susah mungkin ya kalo bertandang ke pusat bencana tanpa harus pake baju parpol?

    ReplyDelete
  7. @Popi : memang gak semuanya begitu, aku bicara secara umum,n kenyataannya didunia politik memang sulit ditemukan yg namanya "ikhlas" :)
    @Vivieck: yg aku singgung adalah "politiknya", so mahasiwa gak termasuklah :)

    ReplyDelete
  8. memberi harus dengan tangan kanan dan tangan kiri jangan sampai tahu, begitu kata Nabi Muhammad SAW. Dan menyebut2 pemberian akan menghapus kebaikannya. Riya sudah pasti membuat orang celaka, semoga kita tidak demikian.

    ReplyDelete
  9. hayo berdoaa...semoga badai cepat berlalu..ehh merapi dink...

    iyaaaaaaaaa gak jadii banner/button tolong di buang yaa.

    ReplyDelete
  10. yah...
    keduanya memang perlu do'a...
    warganya juga perlu doa.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts