Kawin lari (belarian)

Disetiap daerah biasanya punya tradisi sendiri dalam persiapan untuk pernikahan, salah satunya adalah besarnya jumlah mahar untuk pernikahan. Seperti dibeberapa daerah di Sumatera Selatan yang menentukan besar mahar adalah pihak perempuan. Jumlah mahar yang diminta tidak tentu besarannya. Tapi rata-rata untuk saat ini ada di kisaran puluhan juta, tidak peduli apakah si pria dari golongan orang mampu atau bukan. Bahkan ada yang meminta mahar senilai rumah lengkap berserta isinya :).

Tradisi ini sudah turun temurun berlangsung, Dimana jika akan menikah dengan cara rasan tuo (melamar secara resmi) maka biasanya pihak perempuan akan meminta mahar yang besar. Jumlah mahar sebesar itu sebagian besar digunakan untuk biaya pesta pernikahan plus orgen tunggal. Itu semua adalah syarat utama sekaligus sebagai "menjaga gengsi" nama keluarga pihak perempuan karena "malu" sama tetangga jika anak gadis menikah tanpa ada pesta yang meriah.

Namun bagi pasangan yang merasa tidak mampu mereka terpaksa melakukan jalan pintas untuk menghindari "syarat" tersebut. Jalan pintas itu dikenal dengan nama "belarian" (kawin lari). Tujuannya agar mendapat kemudahan dari orang tua mereka dan langsung dinikahkan. Pasangan yang "belarian" biasanya mereka pergi kerumah keteb (penghulu) untuk minta segera dinikahkan.

Nah belarian inilah yang sering menimbulkan permasalahan, ada beberapa kejadian pengantin pria atau calon pengantin pria tewas dibunuh oleh keluarga dari pihak perempuan. Diawali dari "ketidakmampuan" calon pengantin pria dalam memenuhi mahar yang diminta sehingga menimbulkan "sakit hati" pihak keluarga perempuan. Sehingga salah satu pihak keluarga perempuan merasa harus memberi hukuman setimpal kepada pengantin atau calon pengantin pria tersebut.

Tragis memang, tapi ini nyata terjadi. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal bersatunya dua keluarga malah menjadi awal bencana yang berujung kematian. Namun tradisi memang sudah menjadi bagian kehidupan sebagian masyarakat, dan akan terus ada walaupun pengaruh modernisasi sudah menyebar kemana-mana.

Tapi paling tidak kejadian-kejadian buruk akibat tradisi itu dapat menjadi pelajaran untuk bisa lebih "fleksibel" agar dapat menyesuaikan diri dengan kemampuan bukan hanya "mementingkan" gengsi atau nama baik. Yah semoga tidak terulang lagi kejadian seperti itu, hanya gara-gara materi dan tradisi dengan mudahnya nyawa melayang. Semoga bermanfaat.

Comments

  1. Wah, sadis banget sampai ada pembunuhan segala. Hmmm...kalau di tempatku istilah mahar itu disebut dengan nama JUJURAN. Sama seperti di Palembang, pihak keluarga wanitalah yang menentukan besaran biaya pernikahan tsb.

    ReplyDelete
  2. membela harga diri itu kawan. tradisi dirusak seenaknya harus ditangani dengan sikap tegas. tapi soal pembunuhan, ah di Indonesia pembunuhan bisa karena hal sepele kan?

    ReplyDelete
  3. wah,,,sadis juga tuh kalo sampe di bunuh ma pihak perempuan,,,mending nikah yg resmi aja.

    ReplyDelete
  4. yang penting sah dan halal deh ...

    ReplyDelete
  5. tradisi bodoh... jangan ditiru, seharusnya wanita maharnya yg mudah saja, jangan yg mempersulit pihak lelaki... kalau mahar mahal2 seret jodoh lho :p

    ReplyDelete
  6. itulah kekurangan orang tua yang sealu meminta syarat yang tidak dapat disanggupi hingga anak kabur dari rumah , kalo begitu siapa yang malu....kan kita sendiri yang malu

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts