Dampak Perubahan Lingkungan di Rumah Kami

Bicara soal perubahan lingkungan memang tidak terlepas dari perubahan iklim dan cuaca. Dimana salah satu penyebab utama perubahan itu adalah manusia itu sendiri. Proses pengrusakan alam yang telah terjadi sejak ratusan tahun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tidak bisa dipungkiri jika salah satu dampak negatif dari kemajuan ilmu dan teknologi adalah semakin rusaknya alam ini, seperti penggundulan hutan, penambangan liar, polusi dari asap kendaraan bermotor, limbah pabrik dan sebagainya. Jika dulu orang menebang hutan hanya dengan kampak, sekarang sudah menggunakan alat yang lebih canggih sehingga hutan seluas lapangan bola di bumi ini bisa habis sekejab setiap detiknya.

Semua itu adalah sebagian contoh tentang penyebab dari perubahan lingkungan selama ini. Tapi pernahkah kita menyadari perubahan lingkungan yang terjadi di sekitar kita ? seperti di lingkungan tempat tinggal kira sendiri? Nah disini aku coba menggambarkan beberapa efek dari perubahan lingkungan yang terjadi selama beberapa puluh tahun ini di lingkungan sekitar rumah kami :).

Kemanx Village
(Foto Kampung kemanx tahun 1970)

Kami sekeluarga tinggal di sebuah kampung dibagian ulu kota Palembang yang merupakan daerah dataran rendah yang didominasi rawa-rawa dan dilewati sungai kecil. Nenek membeli tanah ini sekitar tahun 60an, saat itu lingkungan sekitar masih sepi dan banyak ditumbuhi pohon-pohon besar sedangkan di depan rumah ada sungai kecil selebar kurang lebih 3 meter yang berhulu di sungai ogan (anak sungai musi). Dibelakang rumah ada beberapa kolam kecil yang banyak dihuni oleh bermacam jenis ikan air tawar. Saking banyaknya ikan di masa itu, menurut cerita nenek kita bisa menangkapnya hanya dengan membalikkan perahu di sungai.

Kemudian di tahun 70-85 an dilingkungan sekitar rumahku itu menurut cerita om dan kakak-kakakku masih ada banyak kupu-kupu raksasa yang berwarna coklat, berang-berang/anjing sungai, dan burung elang sungai yang banyak berterbangan di atas langit, saking banyaknya elang yang berseliweran pada saat itu, ada pantangan bagi kita untuk tidur telentang di halaman agar tidak dilangkahi elang, karena bisa bungkuk katanya hehe. Ikan-ikan bermacam jenis juga masih banyak di kolam belakang rumah kami, kita bisa menangkap banyak jenis ikan air tawar hanya sekali angkat menggunakan tangkul (sejenis jala persegi empat yang berkait bambu panjang).

Banyaknya ikan pada masa itu juga dipengaruhi oleh fase alami di daerah kami yaitu banjir besar 5 tahun sekali, sehingga membawa banyak jenis ikan tawar menjadi penghuni kolam-kolam yang ada dibelakang rumah kami. Ada juga fenomena yang cukup aneh saat itu yaitu jika musim hujan akan ada ribuan kepi (sejenis serangga kecil) berwarna hitam yang memenuhi rumah kami, mungkin itu terjadi karena tempat tinggal mereka basah oleh hujan :).

Dari rentang antara tahun 60-90 an itu perubahan yang terjadi seiring dengan semakin meningkatnya populasi penduduk di lingkungan kami. Tanah rawa yang dulu merupakan tempat tumbuh kembangnya ikan, burung dan berang-berang sudah berganti menjadi tempat tinggal manusia. Sehingga efeknya dirasakan saat ini, dimana menangkap ikan dengan beragam jenis seperti masa itu sudah tidak bisa lagi. Apalagi Sungai di depan rumah sudah tidak mengalir dan ukurannya sudah diperkecil untuk pelebaran jalan, Pohon-pohon besar sudah banyak yang ditebangi, kupu-kupu raksasa sudah tidak ada lagi, capung beraneka corak warna, dan elang-elangpun sudah tidak pernah lagi kelihatan di atas langit rumah kami.

Agar lebih jelas berikut beberapa jenis hewan yang sudah hilang dan susah untuk ditemukan saat ini di lingkungan rumah kami, antara lain :

- Ikan putak
- Kupu-kupu raksasa
- Burung elang
- Ular belang
- Ular sendok
- Kepi kecil berwarna hitam
- Capung


Ada beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab hilang atau berkurangnya hewan-hewan tersebut berdasarkan perubahan yang terjadi di lingkungan rumah kami. Faktor-faktor itu dibagi berdasarkan jenis hewan tersebut, antara lain :
1. Kupu-kupu raksasa berwarna coklat
- Ditebanginya pohon-pohon jambu biji di sekeliling rumah kami
- Bunga alamanda ditebangi dan diganti dengan tumbuhan jenis pakis
- Kembang sepatu sudah banyak diganti dengan anggrek
2. Elang Sungai
- Diburu dan ditangkapi
- Mangsa atau Ikan kesukaannya sudah berkurang
- Pohon-pohon besar yang menjadi tempat tinggalnya banyak yang ditebangi
3. Berang-berang/anjing sungai
- Diburu
- Habitatnya sudah tidak ada lagi karena ditempati manusia
- Ikan-ikan kesukaannya sudah berkurang
4. Ular Belang
- Di bunuh
- Habitatnya banyak dirusak oleh manusia
5. Ular sendok
- Tempat tinggalnya banyak diusik manusia
- Makanannya (ular lain) banyak yang ditangkapi dan dibunuh
6. Ikan Putak
- Tidak ada penangkaran atau pengembangbiakan khusus
- Banyak ditangkapi sebagai bahan baku pembuat pempek yang paling enak
   Note : Langkanya ikan putak tidak hanya terjadi di lingkungan rumah kami tapi hampir di seluruh sumsel
7. Capung
- Entah apa penyebab hewan ini sudah jarang terlihat padahal kolam masih ada banyak sebagai tempat dia  bertelur.

Selain faktor-faktor diatas kemungkinan lain disebabkan juga oleh :
• Tercemarnya sungai dan kolam seiring bertambah padatnya penduduk disekitar rumah kami.
• Banjir besar lima tahunanpun sudah tidak membawa banyak jenis ikan, tapi sampah dan lumpur :)
• Sungai di depan rumah sudah tidak berfungsi seperti dulu karena pelebaran jalan
• Perubahan iklim dan cuaca, dimana musim kemarau dan musim hujan tidak lagi tentu datangnya

Namun ada beberapa jenis hewan yang sampai sekarang masih banyak atau bertahan, antara lain :
- Gondang (sejenis siput air)
- Ikan Gabus/delek/kutuk
- Ikan Betok/Betik
- Burung belibis (sudah sangat jarang)
- Ikan sepat (siam dan mata merah)
- Biawak (sudah sangat jarang)
- Ikan seluang

Selain itu ada juga perubahan jenis penyakit pada tumbuhan terutama tanaman buah yang ada di halaman rumah kami, jika dulu pohon jambu ( jambu air atau biji) dan belimbing bisa berbuah dengan kualitas yang bagus, tidak cacat atau berulat meski tanpa perlu dirawat. Sekarang sudah sulit mendapatkan jambu dan belimbing yang bagus jika tanpa kita rawat atau dibungkus dengan plastik, karena pasti mereka akan diserang oleh lalat buah sehingga sangat mempengaruhi kualitas dari buah yang dihasilkan.

Perubahan-perubahan yang terjadi dilingkungan rumah kami tersebut mungkin bisa menjadi contoh kecil dari perubahan global yang terjadi diseluruh dunia. Dan jika dilihat dari rentang waktu dari tahun 60 hingga sekarang berdasarkan awal mula tinggal dilingkungan ini, telah terjadi banyak perubahan yang cukup signifikan. Baik itu dari hewan dan penyakit tumbuhan.

Yang disayangkan tentu saja hilangnya beberapa hewan seperti kupu-kupu raksasa tersebut tanpa sempat didokumentasikan oleh nenek atau kakak-kakakku dulu karena rentang tahun 60-90 kamera masih belum sepraktis sekarang apalagi HP masih merupakan barang mahal dan langka hehehe. Selain itu kepedulian terhadap lingkungan masih belum seheboh seperti sekarang :).

Semoga contoh perubahan lingkungan yang terjadi di lingkungan rumah kami ini bisa mengingatkan tentang dashyatnya perubahan lingkungan akibat ulah kita sehingga mulai sekarang kita bisa lebih menghargai dan menjaga alam, hewan dan tumbuhan, minimal yang ada dilingkungan rumah kita sendiri. Semoga manfaat.


Comments

  1. Tempatku Prabumulih sejauh ini hanya berubah rame..heheheheh....perubahan iklim signifikan blm tau juga, lamo dak balik....

    ReplyDelete
  2. Wah, ditempat aku tinggal juga terjadi perubahan lingkungan yang besar2an. Aku tidak menemukanlagi kembang sepatu yang dulu banyak ditanam disitu. Kemudian, sungai yang melintasi rumahku juga sungguh memprihatinkan. Terjadi pendangkalan dan kalau musim kemarau, warna airnya hitam pekat. Akibatnya, sudah jarang ditemukan ikan pipih yang dulu sering ditangkap untuk pembuatan kerupuk amplang khas Kalimantan Timur

    ReplyDelete
  3. Wah,,, aq paling takut dengan binatang yang namanya Ular,,,

    ReplyDelete
  4. wah thn 70 belum lahir saya,saya generasi 80-an hehehe,moga menang yah

    ReplyDelete
  5. @Arif : sama aja bro klu gitu, cerita ini berdasarkan cerita turun temurun :)

    ReplyDelete
  6. di kampung ALmarhum kakekku dulu sekililingnya banyak sawah dan ada sungai kecil berair bening! begitu masuk tahun 90-an sawah itu berubah jadi perumahan! sedangkan sungainya hilang entah kemana! sepertinya tertutup jalan-jalan perumahan tuh, ga salah kalo kini sering banjir! sayang ya?

    ReplyDelete
  7. iklim sedang gag menentu di mna2 kang.. semoga perubahan ekstrim seperti ini bisa kembali normal kang iia ;)

    ReplyDelete
  8. Alam kita semakin rusak. dampaknya begitu terasa terkait iklim.Kalau tak dicegah akan semakin parah lagi....

    salam

    ReplyDelete
  9. perubahan iklim akibat prilaku serakah manusia, pohon hutan dapat ditebang hanya dalam hitungan detik/menit

    * btw aku pikir kemang itu hanya di jakarta, ternyata di palembang

    ReplyDelete
  10. Akibat kerusakan alam juga berdampak pada habitat lingkungan ya kawan...

    Sangat disayangkan..., padahal kita berharap alam dan pembangunan dapat seimbang.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts