Buruh bukan Debu

Buruh adalah pekerjaan yang masih dianaktirikan oleh pihak perusahaan maupun oleh pemerintah. Keberadaan buruh dimata mereka seperti kumpulan debu yang sekali disapu pasti akan datang lagi. Padahal perusahaan tanpa buruh ibarat rumah tanpa tiang.

Pekerjaan buruh memang identik dengan pekerjaan kasar, dan jenis buruh yang paling populer adalah buruh pabrik dan perkebunan karena memang disanalah tenaga buruh banyak dibutuhkan. Dan yang saat ini bahkan sejak dulu menjadi ganjalan para buruh adalah standar upah minimun yang seharusnya mereka terima. Pertimbangan mereka adalah tidak seimbangnya penghasilan dengan kinerja dan kebutuhan hidup yang harus mereka keluarkan setiap bulan. Belum lagi "perlakuan" sebagian perusahaan yang berkesan membedakan bahkan dipandang sebelah mata antara karyawan yang berstatus buruh dengan yang kantoran.


Dari pengalaman pribadi waktu awal-awal lulus kuliah pernah merasakan menjadi buruh (operator mesin) di bagian produksi suatu pabrik, terasa sekali jika pekerjaan kita dari pagi sampai sore hanya didepan mesin dengan  konsentrasi penuh terhadap proses dan ketepatan hasil yang harus didapatkan. Bila ada kesalahan sekecil apapun maka resiko dimarahi, dicaci atasan akan menjadi makanan hari itu. Gaji waktu itu sangat tidak seimbang dengan biaya hidup (makan, kos, etc), tapi karena "butuh kerja" sehingga harus menerima apa adanya :).

Intinya, pihak perusahaan ataupun pemerintah harus memikirkan secara serius tuntutan-tuntuan para buruh yang terjadi, jika memang perlu revisi UMK atau UMR segeralah dilakukan jangan hanya pegawai negeri saja yang hampir tiap tahun gajinya naik :). Memang akan ada banyak pertimbangan tapi semestinya besaran gaji karyawan harus disesuaikan dengan porsi kerja serta kondisi perekonomian setempat dalam hal ini harga-harga kebutuhan pokok hidup. Semoga kedepan lebih baik.


Comments

Post a Comment

Popular Posts