Apa Janji-Janjimu (Calon Gubernur DKI Jakarta)

Sebentar lagi Kota Jakarta akan dipenuhi banyak spanduk, selebaran, etc yang berisi obral janji para calon Gubernur yang akan datang :). Yang paling utama dan biasanya menjadi andalan janji para calon adalah "Jakarta bebas macet, bebas banjir, mengurangi pengangguran, memberantas korupsi dan lain sebagainya".


Sepertinya mereka tidak belajar dari pengalaman Gubernur-gubernur terdahulu jika merubah Jakarta menjadi seperti apa yang mereka janjikan tidak cukup hanya dengan kata :). Masalah kemacetan misalnya, tidak cukup dengan mengurangi sarana transportasi umum yang ada atau menambah sarana transportasi alternatif seperti kereta layang sejenisnya, karena faktor utama penyebab itu semua adalah tingkat kepadatan daripada pengguna jalan itu sendiri.

Jadi selama masalah kepadatan itu tidak diatasi so akan tetaplah terjadi yang namanya kemacetan, kemiskinan, kejahatan, kesemerawutan, dan banjir. Yang lebih rumit lagi adalah mengatur atau bahkan merubah tingkat kepadatan itu sendiri. Mungkin solusinya sama dengan memperbaiki knalpot yang lama berkarat, dimana untuk membuatnya mengkilap lagi ada tiga cara, pertama beli knalpot baru hehe, kedua ditutupi langsung dengan cat dan ketiga dibersihkan dulu (diamplas atau dikasih cairan penghapus karat) lalu baru dicat atau dikrom :).


Jika knalpot itu disamakan dengan sebuah kota maka ketiga cara diatas bisa diterapkan dengan ilustrasi konyol versi warcoff sebagai berikut hehe :
  1. Pertama buat kota baru dengan cara manfaatkan sampah di bantar gebang untuk membuat pulau buatan yang nantinya bisa dibangun kota dan segala fasilitasnya, masa kita gak bisa meniru negara di arab sana yang bisa membuat pulau buatan yang berukuran ratusan hektar hehe
  2. Buat lebih banyak jalan layang hingga bertumpuk 10 jadi tidak perlu ada penggusuran
  3. nah cara ketiga ini yang ekstrim, gusur dan bumihanguskan apa saja yang menjadi biang kemacetan, kekumuhan, kemiskinan, etc hingga tuntas, setelah itu baru kemudian buat rencana tata kota yang baru dan lebih baik dan kemudian diterapkan dengan komitmen tinggi.
Nah para calon Gubernur boleh memilih salah satu tiga opsi diatas hehehe. Yang pasti terpilih atau tidaknya seorang calon semua tergantung dari orang yang memilihnya, artinya sebagai pemilih kita harus bersikap bijak dan tulus bukan karena janji yang membuai atau karena dikasih kertas bernilai tapi lebih ke pribadi dari sang calon.  

Pribadi yang minimal bisa diukur dari pengalamannya, karakter, dan kehidupan keluarganya. So mari kita menjadi pemilih yang pintar dan semoga siapapun nanti yang terpilih dapat menjalankan amanah tersebut dengan semaksimal mungkin. Semoga manfaat :).

Comments

Post a Comment

Popular Posts