Deforestasi (Penyebab & Solusi)

Bicara tentang perubahan iklim dan pemanasan global tidak terlepas dari ulah kita sendiri sebagai manusia yang hanya bisa merusak dan memanfaatkan sumber daya alam dengan tidak bijaksana. Salah satu sumber terbesar penyebab perubahan iklim dan pemanasan global adalah deforestasi.

Meskipun ada faktor lain yang mempengaruhi yaitu degradasi hutan terutama di musim kemarau dimana sering terjadi kebakaran hutan akibat kekeringan yang berkepanjangan. Tapi sekali lagi kebakaran ini bisa terjadi karena kelalaian manusia itu sendiri seperti membuang puntung rokok sembarangan dan sebagainya.

Efek dari semua itu sangat berpengaruh besar terhadap perubahan iklim, dimana kebakaran hutan tersebut akan melepaskan karbon dioksida ke atmosfir sekaligus hilangnya area hutan yang berfungsi sebagai penyerap karbon dioksida.

Dan Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan tropis yang sangat luas (dulunya), telah menjadi salah satu negara penghasil gas rumah kaca terbesar setelah Cina dan Amerika Serikat. Hebatnya laju deforestasi (penebangan hutan) di Indonesia adalah laju deforestasi tercepat di dunia. (sumber : greenpeace.or.id)

Apakah faktor penyebab deforestasi ? Penyebab terbesar deforestasi hutan tropis dikarenakan pengalihan hutan alami menjadi hutan tanaman industri yang dilakukan besar-besaran terutama di sumatera dan kalimantan. Semua itu hanya karena untuk memenuhi permintaan global akan produk kertas serta minyak kelapa sawit.

Menurut sumber terkait, sejak tahun 1950, lebih dari 74 juta hektar hutan Indonesia telah musnah, ditambah area sekitar yang juga mengalami kerusakan berat. Dan pemerintah kita pada dasarnya sudah mengidentifikasi industri kayu, minyak kelapa sawit, pertanian, serta pulp (bubur kertas) dan kertas sebagai penyebab utama kekeringan lahan gambut, deforestasi dan emisi yang dihasilkan Indonesia.

Hal ini juga sudah ditegaskan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenai zero deforestation pada tahun 2015. Dan berlakunya kebijakan Moratorium (Jeda) Pemberian Ijin Baru Pembukaan Hutan sejak 2011 lalu.

Tapi sayangnya pemerintah masih lemah dalam melakukan pengawasan melekat terhadap perusahaan yang memiliki hak HTI . Semua ini karena pertimbangan dari sisi ekonomi, dimana kita ketahui prosfek dari industri pulp dan kertas sangat bagus di pasaran Internasional dan bernilai ekonomi sangat tinggi. So wajar jika pemerintah "sulit" menindak tegas bila terbukti ada pelanggaran :).

Pengembangan HTI sebenarnya bertujuan untuk "membangun" hutan masa depan Indonesia yang berfungsi untuk merehabilitasi kawasan hutan yang rusak, sekaligus sebagai penunjang perekenomian nasional demi kesejahteraan sosial dan perbaikan kualitas lingkungan.

Namun kenyataan di lapangan, sudah menyimpang dari tujuan "mulia" tersebut. Yang dijadikan lahan HTI bukan hanya kawasan hutan yang rusak, tapi juga telah dengan sengaja merusak hutan asli atau lahan gambut yang masih alami sehingga mengakibatkan habitat hewan seperti harimau dan burung elang menjadi berkurang. (sumber terkait).

Sebagai informasi mengenai pentingnya lahan gambut sebagai "penjaga" bumi dari perubahan iklim yang lebih ekstrim adalah sebagai berikut : (sumber terkait)
  • Gambut merupakan substansi organik yang terurai sebahagian yang terbentuk di lahan basah. Seiring waktu, material ini menjadi gambut yang memiliki kandungan karbon paling kaya dibanding jenis tanah lainnya.
  • Dibukanya lahan gambut menjadikan karbon yang terkandung teroksidasi dan melepaskan CO2.
Seperti kita ketahui sebagian besar dari hutan tropis di Indonesia tumbuh di atas tanah gambut. Bahkan di salah satu wilayah sumatera merupakah lahan gambut tropis terbesar di dunia. Parahnya lebih dari 25% perkebunan kelapa sawit dan akasia berada di atas lahan gambut tersebut.

Penghancuran terhadap lahan gambut di Indonesia saja bertanggungjawab atas 4% emisi gas rumah kaca hasil tindakan manusia. Untuk diketahui proses konversi lahan gambut yang menyebabkan kerusakan lahan gambut dijelaskan sebagai berikut : (sumber terkait)
  • Umumnya, pohon dengan nilai jual yang tinggi ditebang untuk diambil kayunya. Jaringan kanal dibangun untuk menyingkirkan kayu-kayu dan mengeringkan gambut agar keadaannya sesuai untuk mengembangkan kebun kelapa sawit untuk minyak kelapa sawit atau pohon akasia untuk pembuatan kertas dan bubur kertas.
  • Perambahan hutan yang tersisa menyebabkan kekeringan gambut yang melepaskan lebih banyak CO2 (terutama tahun tahun terjadinya El NiƱo). Terkadang, hutan dibakar untuk mengurangi kadar keasaman sebelum kelapa sawit ditanam.
Tulisan diatas merupakan gambaran dari kondisi yang ada saat ini, betapa pembangunan yang berlandaskan kesejahteraan sosial dan perbaikan lingkungan masih menjadi tameng pihak-pihak tertentu sebagai dalih dibalik pengrusakan yang telah mereka lakukan.

Namun ada satu hal yang kita harus sadari yaitu bahwa kita sendiri juga mempunyai peran terbesar sebagai penyokong dari kerusakan hutan yang telah terjadi. Seperti kita ketahui kertas menjadi salah satu bahan utama kemasan suatu produk . Salah satunya adalah kertas yang digunakan sebagai kotak dan pembungkus makanan. Semakin banyak kita membeli produk yang berkemasan kertas maka akan semakin meningkat pula perusakan hutan yang terjadi.

Sebenarnya para produsen tersebut bisa memanfaatkan alternatif lain sebagai pengganti kertas. Tapi mungkin karena pertimbangan ekonomis maka hal itu masih sulit diterapkan. Ada banyak alternatif pengganti kertas selain kertas daur ulang, yaitu kertas dari serat pisang (Banana fibre).

Teknologi inovatif ini dikembangkan oleh Papyrus Australia dengan menggunakan metode memisahkan lembar serat dari tanaman pisang untuk menjadi kertas dan kemasan sebagai alternatif pengganti kayu. Hebatnya lagi metode ini tidak menggunakan bahan kimia selama proses pembuatannya, untuk lebih jelas bisa dilihat disini.

So teknologi sudah tersedia, masalah untung rugi harus dipinggirkan dulu yang penting saat ini adalah bagaimana usaha kita dalam membantu menyelamatkan hutan yang tersisa. Bukan untuk kita sendiri tapi yang paling utama adalah untuk anak dan cucu kita nanti. Jangan sampai hutan alami dengan segala isinya hanya menjadi ilustrasi dan cerita dongeng bagi mereka nanti. Semoga manfaat.

Comments

  1. saya sepakat jika ini faktor pemerintah memegang peranan penting. kalo pemerintahnya gombal, ya demikianlah adanya. ditambah lagi masyarakatnya yang nggak sadar lingkungan. semoga keadaan di bumi kita membaik.

    ReplyDelete
  2. ini tugas semua pengisi bumi , harus memupuk kesadaran yang tinggi akan penting nya hutan :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts