Demoralisasi (Pengaruh & Akibat)

Demoralisasi (kemerosotan akhlak atau kerusakan moral) sudah merambah kemana-mana. Entah kenapa ini bisa terjadi, apa karena nilai-nilai agamis yang sudah ditinggalkan atau karena pengaruh perkembangan zaman semata.

Warcoff bicara seperti ini bukan tanpa alasan, dari membaca koran sabtu kemarin dimana ada berita pembunuhan yang terjadi di sebuah SMU di Palembang. Pelaku dan korban adalah siswa dari sekolah tersebut yang hanya beda kelas saja, yang mengenaskan adalah pemicu terjadinya pembunuhan itu hanya gara-gara masalah pembagian tempat main bola saja. Pelaku membunuh korban dengan pisau sambil merangkul korban lalu menusuk dada kiri dan perut korban hingga tewas.


Peristiwa seperti ini tidak terjadi sekali dua di kota ini, parahnya bukan hanya anak SMA saja tapi juga merambah ke anak SMP, seperti beberapa bulan lalu seorang anak SMP membunuh kernet bus kota gara-gara ditagih ongkos yang kurang dan pembunuhan itu terjadi di dalam bus kota tersebut. Si kernet tewas setelah ditusuk dengan pisau yang disimpan pelaku di kaos kaki.

Kasus diatas bisa terjadi karena "kebiasaan" lama sebagian orang sini yang suka membawa belati atau pisau kemanapun mereka pergi. Jadi setiap ada perkelahian biasanya disertai dengan senjata tajam seperti itu, hingga tak heran selalu ada korban jiwa. Disini penusukan itu disebut dengan "tujah" dan peristiwanya disebut "betujahan".

Pihak sekolah maupun kepolisan sebenarnya sudah berulang kali melakukan razia sajam ini, disekolah ataupun ditempat umum, namun seperti biasa selalu ada cara mereka untuk menyembunyikan sajam tersebut.

Jadi ingat waktu warcoff masih SD, teman-teman sekelas sudah ada yang bawa benda tajam di pinggangnya, entah itu obeng, pena bahkan paku yang sudah digepengkan di rel kereta api. Entah siapa yang memulainya kebiasaan ini. So dulu kalau berkelahi harus hati-hati jangan sampai terlalu dekat agar punya jarak untuk menghindar dari tusukan yang tiba-tiba.

Kebiasaan membawa Sajam memang menjadi sumber malapetaka, hanya gara-gara masalah sepele bisa menyebabkan nyawa orang lain melayang. Yang mengherankan lagi pola pikir dari pelaku sehingga begitu mudahnya menghilangkan nyawa orang lain.

Menuruf warcoff pribadi, masalah sajam dan pola pikir "pembunuh" ini lebih banyak dipengaruhi faktor lingkungan dan keluarga. Contoh sederhananya adalah di lingkungan sekitar rumah warcoff. Penduduk disini rata-rata adalah warga pendatang dari kabupaten atau desa yang ada di sumsel ini. Tingkat pendidikan mereka rata-rata paling tinggi SMP, itupun banyak yang tidak selesai dikarenakan faktor biaya atau karena siswa tersebut sudah tidak punya keinginan untuk melanjutkan sekolah.

Pola pergaulan disini keras, artinya emosi selalu dinomor satukan dalam menghadapi setiap masalah.  Pertengkaran antar keluarga dan tetangga dulu biasa terjadi. Apalagi perkelahian disertai penusukan kerap terjadi antar teman hanya gara-gara kesenggol waktu joget saat menikmati organ tunggal (musik dangdut yang biasanya ada disetiap acara perkawinan).

Pekerjaan utama masyarakatnya kebanyakan menjadi sopir, atau kernet, sisanya menjadi tukang kayu, buruh dan pekerjaan yang tidak "tetap" (maling, copet, preman). Sehingga tidak heran dulu wilayah tempat warcoff tinggal ini disebut daerah texas alias banyak banditnya. Meskipun bukan tempat bandit besar tapi karena jumlahnya yang banyak maka cukup menganggu tingkat keamanan disini.

Untungnya sekarang sudah agak kondusif karena semakin meningkatnya taraf kehidupan dan pendidikan masyarakat disini, meskipun jenis pekerjaan masih sama seperti yang dulu tapi paling tidak ada perubahan dari pola pikir dalam mencari pekerjaan yang halal. Namun tetap masih ada bandit-bandit kelas teri yang merupakan warisan dari senior-seniornya dulu :).

Nah dari contoh diatas terlihat jika faktor lingkungan dan keluarga menjadi faktor utama kebiasaan-kebiasan buruk tersebut. Untuk merubah kebiasaan itu bukan hanya soal metode yang tepat tapi juga waktu yang tak singkat. Masalah kurangnya kesadaran mengenai pendidikan agama dipengaruhi juga oleh faktor orang tua yang tidak menanamkan nilai-nilai keagamaan sejak dini pada anak-anak mereka, kasarannya bagaimana sang anak mau sholat jika orangtuanya sendiri tidak pernah memberi contoh atau membimbing secara langsung.

Sebelumnya apa yang warcoff sampaikan diatas berdasarkan pandangan pribadi bukan untuk menjelekkan kampung sendiri :) tapi sekedar memberi contoh betapa besar pengaruh keluarga dan lingkungan terhadap perkembangan prilaku seseorang dalam menghadapi setiap masalah yang terjadi didalam kehidupannya. Semoga manfaat.

Comments

  1. iya, ikut prihatis. budaya kekerasan bukan lagi porsi kaum marjinal di kalangan dewasa, tapi sampe juga di kalangan terpelajar usia muda.

    saya concern, ini huga terkait sama kurikulum sekolah yang vakum pelaksanaan. terlalu teoritis dan tidak ke pendekatan praktis.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts