Penerbitan buku (Kualitas atau Menarik)

Menyimak salah satu dialog sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) beberapa hari lalu, ketika Aya' sedang menginterview pegawai barunya. Ada hal yang menarik yaitu pendapat dari si calon pekerja tentang semakin mudahnya menerbitkan buku sebagaimana mudahnya mengakses internet, dimana dia tidak setuju itu terjadi karena menerbitkan buku seharusnya hanya dilakukan oleh penulis yang sudah terbukti tulisannya bagus/terkenal.

Intinya buku-buku yang diterbitkan sebaiknya hasil karya penulis yang sudah terbukti bagus agar jika bukunya diterbitkan tidak sia-sia sehingga biaya produksi dan kertas yang dipakai tidak terbuang percuma.

Terlepas itu hanya dialog dari sebuah sinetron, tapi pernyataan itu menarik untuk ditelaah. Apalagi saat ini menerbitkan buku memang lebih mudah seperti contohnya dengan self publishing (penerbitan mandiri) dan itu didukung semakin banyaknya usaha dan situs web penyedia jasa penerbitan mandiri tersebut. Sehingga menerbitkan buku, bukan lagi sekedar impian bagi setiap penulis.

Terkait dengan pendapat diatas, apakah memang perlu membatasi penerbitan buku yang tidak "berkualitas" ? warcoff pribadi satu sisi cukup setuju dengan pendapat itu karena bagaimanapun penyeleksian suatu karya adalah suatu tantangan bagi para penulis agar karyanya bisa terpilih sehingga semakin meningkatkan kreatifitas para penulis.

Apalagi jika melihat beberapa kasus buku pelajaran sekolah yang sempat menghebohkan berapa bulan lalu, sepertinya memang perlu ada sedikit pembatasan, dalam arti ada ketentuan khusus dari pemerintah/pihak terkait dalam rangka menyaring kualitas dari isi buku yang akan diterbitkan.

Semua itu secara tidak langsung juga menjadi tanggung jawab penyedia jasa penerbitan yang ada, karena tanpa mereka tentu tidak akan ada buku yang dicetak :). Jadi diharapkan mereka bisa memperhatikan kualitas dari tulisan yang akan dicetak. Dan seharusnya memang penyedia jasa penerbitan yang berkualitas tentu hanya akan menerbitkan karya yang terpilih saja bukan semata pertimbangan profit.

Dan jika kita bicara soal kualitas, terutama dari segi isi dan manfaat dari sebuah tulisan memang sangat baku aturannya tapi jika dikaitkan dengan segi bisnis maka otomatis kualitas suatu buku bisa menjadi nomor dua. Karena kadang suatu tulisan yang berkualitas kadang tidak menarik :). Dan sisi "menarik" inilah yang lebih diutamakan untuk didahulukan oleh para penerbit.

Tapi mudahnya menerbitkan karya seseorang menjadi buku, bisa menjadi sarana pembuktian si penulis apakah karyanya bisa diterima oleh masyarakat. So jadi bagaimana sebaiknya ? sebaiknya tetap ada pembatasan atau penyeleksian terutama untuk buku-buku pelajaran, agar anak-anak dan remaja usia sekolah tidak sampai teracuni oleh hal-hal bisa merusak moral mereka. Semoga manfaat.

Comments

  1. saya setuju adanya penerbitan mandiri. saya pun setuju dengan filter dari penyedia jasa penerbitan. artinya kalo keduanya jalan sesuai fungsinya, akan sangat baik jadinya. nah, soal penyedia jasa ini, saya kira perlu ada pengaturan dari lembaga berwenang (dibuat aturannya), so kalo ada penyimpangan, dengan mudah akan menindaknya dengan parameter hukum yang pasti.

    ReplyDelete
  2. wah ini sebuah potensi besar bagi teman-teman penulis blog atau blogger punya wadah untu mengembangkan karya tulisannya.

    salam kenal

    ReplyDelete
  3. kalau utk novel saya rasa nggak papa diterbitkan self publishing. toh dari penerbit biasanya udah ada rambu2 spt ga boleh ada unsur SARA dan porno. Tapi kalo buku pelajaran memang harus diseleksi dulu.

    ReplyDelete
  4. setuju dengan mbak fany di atas..

    kalo sekedar fiksi rasanya tidak masalah, tapi jangan lupa, harus yang bertanggung jawab juga.. :)

    ReplyDelete
  5. memang sih sob, tapi jika sudah masuk ke masyarakat, yang terbaik lah yang bisa terus bertahan, masyarakat saat ini sudah bisa memilah mana yang berkualitas dan mana yang buruk

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts