Guruku Tidak Sekedar Cantik (Guruku Pahlawanku)

Saat masih sekolah…

Waktu masih sekolah dulu (pernah sekolah juga toh hehehe), warcoff dan teman-teman suka memberi gelar atau julukan tertentu pada guru-guru yang punya ciri khas atau keunikan tertentu. Gelar atau julukan itu diakui tidak hanya oleh satu kelas tapi seluruh murid sekolah bahkan melekat hingga turun temurun. (awas jangan ditiru !!! )

Julukan tersebut disematkan pada mereka bukan berdasarkan bentuk fisik tapi dari gaya mengajar, penguasaan materi dan cara mengajar yang kurang tepat sehingga proses pembelajaran tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tak heran jika guru yang bersangkutan tidak punya wibawa dan kurang dihormati oleh para siswa.

Begitupun dengan guru yang terlalu kaku, pilih kasih, keras dan sok wibawa membuat siswa menjadi takut, bahkan benci. Janga harap suasana kelas menjadi aktif (tanya-jawab) karena perasaan tertekan dan tak nyaman untuk belajar.

Tak dipungkiri hanya siswa-siswa yang cerdas dan “mau” rajin belajar saja yang mampu menyerap pelajaran dari mereka. Bisa dikatakan tanpa adanya guru yang seperti itu, seorang murid bisa belajar sendiri melalui buku.

Belajar tanpa guru…

Bisakah kita belajar tanpa guru ? Ya, kita bisa belajar atau mempelajari sesuatu tanpa guru (Otodidak). Tapi, manusia adalah mahluk sosial yang punya keterbatasan sehingga sampai kapanpun peran guru tak akan tergantikan oleh mesin, buku atau alat bantu lainnya.

Hakekat mahluk sosial itu adalah hubungan timbal balik atau saling membutuhkan, salah satunya dengan wujud saling berkomunikasi dan berbagi, baik itu dengan satu orang, seseorang dengan sekelompok orang, atau kelompok dengan kelompok (interaksi sosial). Dan pendidikan adalah salah satu sarana interaksi sosial tersebut, dimana terjadi hubungan antara guru dengan para murid begitupun sebaliknya.


Berkaca pada masa lalu…

Berkaca dari pengalaman warcoff diatas terkait dengan salah satu permasalahan pendidikan saat ini, yaitu kualitas guru yang masih rendah. Kualitas yang tidak hanya menyangkut status pendidikan mereka tapi juga kualitas performa mereka dalam mengajar.

Kualitas pendidikan seorang guru memang penting tapi akan lebih baik jika diiringi dengan kualitas mengajar yang baik. Hal inilah yang harus diperhatikan karena “mendidik” itu bukan hanya bisa menjelaskan, memberi contoh, melatih atau menjawab pertanyaan, tapi juga harus bisa memahami karakter dan kemampuan orang yang menjadi anak didiknya.

Seorang guru harus menyukai pekerjaannya, untuk bisa memberikan yang terbaik bagi anak didiknya. Seorang guru juga harus bisa membuat para siswa menyukai pelajaran yang diberikannya. Karena rasa suka itu akan membuat kita merasa nyaman dan tertantang untuk terus menjadi lebih baik, meskipun terkadang rasa suka itu berawal dari keterpaksaan :).

Siapakah yang salah dan harus bertanggungjawab ?...

Apakah merosotnya kualitas pendidikan di negeri ini secara umum karena rendahnya kualitas guru ? Tidak, jika kita bicara sistem, dimana seperti kita ketahui sistem adalah sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan.

Artinya masalah ini adalah tanggung jawab kita bersama sebagai bangsa Indonesia pada umumnya. Pemerintah, pihak swasta, Ngo, guru, murid, dan kita semua pasti mempunyai keinginan yang sama untuk mempunyai pendidikan yang berkualitas secara keseluruhan dan merata ke seluruh pelosok tanah air.

Kita harus bergerak seiring sejalan sesuai dengan fungsi, kemampuan dan peran masing-masing untuk bekerjasama memperbaiki pendidikan di Indonesia. Dan inilah menjadi salah satu dasar terbentuknya Gerakan Indonesia berkibar.

Dimana seperti kita ketahui Gerakan Indonesia berkibar (bersama kita belajar) adalah wadah kerjasama yang mengusung kemitraan pemerintah swasta, atau public private partnership. Gerakan Indonesia Berkibar mengikutsertakan segenap lapisan masyarakat yang peduli pendidikan untuk ambil bagian dalam gerakan nasional ini, salah satunya adalah para blogger.

Blogger berperan sebagai influencer (pemberi pengaruh) yang berfungsi untuk meningkatkan pemahaman pentingnya pendidikan melalui penyebaran informasi untuk memperbaiki kualitas guru dan sekolah di Indonesia demi membangun bangsa yang lebih kokoh.


Kondisi pendidikan di Indonesia sekarang dan dulu…

Nah dalam hal ini (sebagai blogger) warcoff mencoba berbagi pengalaman dan opini yang terkait dengan masalah pendidikan ini. Warcoff bertanya kepada adik warcoff yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah dasar Islam terpadu mengenai pandangannya tentang pendidikan saat ini, sebagai berikut :

Problem utama pendidikan saat ini :
Moral/karakter pelajar yang semakin merosot.
Kualitas pendidikan yang masih kalah bersaing.

Kualitas guru saat ini :
Banyak guru yang belum memenuhi kriteria sebagai tenaga professional.

Kualitas kurikulum saat ini :
Secara konseptual sudah cukup baik tapi pada prakteknya belum optimal.

Kualitas insfrastruktur pendidikan :
Masih sangat kurang memadai.
Belum merata khususnya didaerah terpencil.
Masih terpusat di kota.


Sebagai pembanding warcoff juga bertanya pada nenek warcoff, yang pernah menjadi guru bidang studi PKK. Beliau aktif mengajar sejak tahun 1940-1978. Jadi menurut beliau :

Prinsip utama guru saat itu adalah ingin anak didiknya pinter, atau minimal mengerti apa yang telah diajarkan.

Adab berpakaian murid-murid saat itu :
Murid perempuan harus memakai rok minimal 10 cm dari bawah lutut.
Murid wanita harus pakai baju dalam (singlet) ketika menggunakan kemeja atau blus

Kurikulum saat itu punya target/tujuan yang jelas pada setiap mata pelajaran yang diajarkan, misal 10 tahun kedepan diharapkan dengan belajar PKK, ibu-ibu di Indonesia menjadi pinter dalam mengurus keluarga.

Standar guru yang baik menurut nenek :
Guru harus bisa mengajar dengan sungguh-sungguh.
Penerapan ilmu mengajar dengan baik.
Berusaha menerangkan setiap pelajaran hingga semua murid mengerti.


Dari dua pendapat diatas, paling tidak kita bisa melihat perbedaan kualitas pendidikan masa lalu dengan sekarang. Dimana pada jaman dulu konsep pendidikan itu sederhana tapi tujuan dan pelaksanaannya jelas dan tegas hingga berjalan sebagaimana mestinya.


(Mungkin) Sebuah perenungan…

Semua orang pernah jadi murid, tapi tidak semua pernah jadi guru
Kita ini dulunya juga seorang murid. Artinya dengan pengalaman itu seharusnya guru, pemerintah dan pihak-pihak yang terkait bisa memahami beban dan kebutuhan yang harus ditanggung seorang murid dengan semua tugas dan kewajibannya. Itu semua bisa menjadi landasan untuk membuat konsep pendidikan yang tepat, khususnya konsep yang sesuai dengan karakter positif bangsa Indonesia serta fleksibel menghadapi segala perubahan.

Pendidikan bukan sekedar status sosial
Pendidikan bukan sekedar untuk status sosial semata seperti yang selama ini (disadari atau tidak) telah tertanam dibenak masyarakat. Tak heran jika masih banyak orang rela mengeluarkan uang jutaan rupiah demi memasukkan anaknya ke sekolah yang favorit. Atau memaksakan sang anak untuk sekolah ditempat tertentu, mengikuti berbagai kursus, etc tanpa memperdulikan apa keinginan, kemampuan dan bakat yang dimiliki sang anak.

Perlunya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang tujuan pendidikan
Ditempat warcoff, kebanyakan anak-anak putus sekolah bukan karena tiada biaya, tapi karena sudah malas sekolah. Selain dipengaruhi oleh latar belakang orang tua yang berpendidikan rendah juga karena banyaknya pengangguran di level sarjana semakin membuat pandangan masyarakat tertentu tentang pentingnya pendidikan semakin semu. Berpola pikir praktis yang penting bisa dapat uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tanpa harus melalui proses belajar dengan hal-hal yang bersifat teoritis.


Sebuah pengakuan (Akhirnya)…

Dulu, pandangan warcoff tentang guru hanyalah sosok atau seseorang yang bertugas mengajar suatu pelajaran di kelas. Atau sekedar kekaguman dengan ungkapan “guruku cantik sekali” :). Tidak lebih dari itu...

Tapi setelah lulus, dan bekerja, barulah warcoff menyadari betapa besar makna dan peran guru, sekecil apapun kontribusi yang pernah mereka berikan tapi mempunyai dampak besar dalam perjuangan warcoff merajut masa depan. Terbukti jika guruku tidak hanya sekedar cantik :).

Disinilah makna guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dimana beliau-beliau (guru) yang hingga sekarang masih mengajar ataupun yang sudah tidak ada di dunia ini telah menjadi bagian sejarah hidup kita tanpa pernah sekalipun mereka meminta balasan atas apa yang telah mereka berikan.

Satu yang pasti, menjadi guru itu tugas mulia dan penting. Sama seperti Ibu dan Bapak kandung kita yang mendidik, mengasuh dan membimbing serta menunjukkan contoh tauladan sebagaimana semboyan “Tut wuri handayani” yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara.

Semoga semua kebaikan dan jasa yang pernah diberikan oleh guru-guru kita semua, diberkahi Allah SWT. Dan semoga kualitas pendidikan di negeri tercinta ini akan semakin baik untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Amin ya robbal alamin.

Semoga manfaat.

Comments

  1. itulah problema yg sedang terjadi di dunia pendidikan .
    bukan hanya tanggung jawab guru saja, tetapi semua pihak harus ikut bertanggungjawab agar tercipta kualitas anak didik yg berkualitas :)

    ReplyDelete
  2. tidak mudah lho jadi guru yg bisa ngajar. apalagi yg sampai disukai murid juga

    ReplyDelete
  3. hiiii... tulisannya berbobot banget. dirapiin dikit kirimin ke koran tu Mas. mantep ide-idenya.

    kualitas pendidikan yang berkisar pada permasalahan pengajar selalu jadi masalah sejak dulu kala. padahal banyak banget sarana yang bisa jadi capaciy building. padahal pendidikan ini nyawanya pembangunan. kalo pendidikan mutunya rendah, jadilah parlemen tak berkualitas, pelajar tawuran, dan birokrat korupsi.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts