Secangkir kopi pahit dan gula

Secangkir kopi pahit di pelataran senja. Menyambut datangnya malam keduapuluh tiga bulan November.

Secangkir kopi pahit, tak butuh banyak gula, cukup sedikit saja apalagi jika ada susu atau coklat penambah rasa.

Semua itu buat Sang gula cemburu padanya, seakan tiada berguna. Habislah manis dimakan semut-semut hitam yang selalu setia. Geram hati sang gula padanya, rupa dan rasa jauh lebih indah tapi tetaplah sang tuan memilih dia.

Gula lalu buat rencana…tuk balaskan sakit hatinya…pergilah ia mencari dukun sakti keseluruh penjuru negeri.


Hingga sampailah ia disebuah tempat dimana sang dukun sakti berada…Singkat cerita, diberilah sang gula sebuah benda, tak jelas wujud dan rupa, karna tertutup oleh sebalut kain lusuh yang pudar warnanya.

Pesan sang dukun, gunakanlah benda dibalik kain ini di malam ketigapuluh bulan November. Sebut nama yang kau benci tiga kali ditambah beberapa mantra sambil pejamkan mata. Lalu celupkan benda ini ke secangkir kopi yang kau benci, cukup tiga celupan. Tapi ingatlah!!! Ada satu pantangan, jangan kau pernah buka kain pembungkus benda ini, apapun yang terjadi.

Gulapun segera melaksanakan semua perintah. Di malam penentuan dia rapalkan mantra sambil pejamkan mata dan segera memasukkan benda itu. Dan…

Esoknya dia melihat ada perubahan... sang tuan tidak meminum secangkir kopi pahit lagi, gulapun jadi ceria karena dipikirnya sang tuan berubah selera.

Memang sang tuan tidak lagi meminum secangkir kopi pahit lagi tapi...dua cangkir!! Bahkan sejak saat itu sang tuan bisa menghabiskan empat cangkir kopi pahit sehari…

Marahlah sang gula merasa ditipu daya dan saking geramnya dia membanting benda didalam bungkusan dari sang dukun…braaaak!!! Hancurlah berantakan hingga kain pembungkusnya terbuka…

Tapi alangkah terkejutnya sang gula melihat isi dibalik bungkusan itu…karena ternyata benda didalam kain itu adalah biji-biji kopi hasil dari kotoran luwak.

Comments

  1. hihi... saatnya luwak berjaya. mempermalukan martabat manusia dengan kotorannya.

    ReplyDelete
  2. di dekat kantor saya ada kedai kopi luwak Mas. ya ampuun tu kedai, larisnya minta ampun. rupanya hewan favorit pun sudah beralih sekarang, tak harus macan atau elang.

    ReplyDelete
  3. jiaah kirain apaan yang ada dalam benda itu, pelajaran moral : jangan percaya sama dukun, bukannya membantu malah justru semakin 'menyesatkan' hehe

    ReplyDelete
  4. @NFkalo dukun beranak nggak papa ya Mbak Nufa?

    ReplyDelete
  5. @Mas Zach : kopi luwak memang enak mas meskipun kebanyakan "penikmat" hanya sekedar tuk gengsi aj, sama tuh spt penggemar atau yg suka minum di "5t4rbuk", kopinye biasa aj padahal hehehe

    @Nf : ternyata tulisan ini py byk makna ya hehehe

    @Wawank : bukan tapi kopi dari hasil kotoran luwak hehehe

    ReplyDelete
  6. saya udah pernah nyobain dikit gitu. cuma sayangnya saya bukan penikmat kopi, jadi ya lewat begitu aja. lain halnya kalo susu, saya hobi banget.

    ReplyDelete
  7. saya penikmat kopi, tp sayangnya bukan kopi luwak..
    bagus ya gaya bahasanya, puitis.. nice posting.
    salam blogging

    ReplyDelete
  8. benar Mbak Ria. beliau ini memang biangnya gaya bahasa. cap jempol pokoknya!

    ReplyDelete
  9. @Ria : aku juga bukan penggemar kopi luwak karena masih terlalu mahal hehehehe.

    @Mas Zach : aku gak paham gaya2 bahasa mas, taunya hiperbola tok hehehehe

    ReplyDelete
  10. saya lebih suka kopi susu, tapi kopi menjadi pantangan bagi penderita maag :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts