Buruh (Pabrikan & Kantoran)

Beberapa waktu lalu demo buruh untuk kenaikan UMR atau UMP serentak diseluruh tanah air tercinta ini, aksi itu menimbulkan banyak pro dan kontra. Kontra dari pihak-pihak terkait tentu saja :).

Nah yang berdemo atau sering berdemo pada setiap peringatan hari buruh adalah golongan buruh-buruh pekerja pabrik, so kenapa para pekerja kantoran tidak ada yang ikut ? mungkin itu karena pekerja kantoran merasa mereka bukan golongan buruh atau gaji mereka memang sudah jauh lebih baik hehe.

MENURUT KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA, BURUH ADALAH ORANG YG BEKERJA UNTUK ORANG LAIN DENGAN MENDAPAT UPAH.

Dari pengertian kamus besar bahasa Indonesia tersebut bisa diartikan bahwa siapapun orang yang bekerja dengan orang lain dan mendapat upah adalah termasuk golongan buruh.


Pengertian buruh diatas mungkin berbeda dengan pemahaman umum selama ini, dimana buruh digambarkan sebagai tenaga kerja kasar, pabrikan, tambang, etc dengan tingkat pendidikan yang rendah. Yang membedakan mungkin ada dua jenis buruh, yaitu “buruh pabrikan” dan “buruh kantoran”.

So terkait dengan tuntutan “buruh pabrikan” tersebut, warcoff satu sisi bisa memaklumi keinginan mereka itu, jika bukan diukur berdasarkan kebutuhan hidup tapi “kesamaan” hak. Warcoff sendiri pernah merasakan “susahnya” jadi buruh pabrikan meskipun gak lama dan memang ada terasa kesenjangan atau perbedaan, baik itu dari sisi perlakuan ataupun status jika dibandingkan dengan pekerja di bagian kantoran.

Tapi memang standar UMR/UMP yang layak tidak bisa dengan mudah disamakan karena adanya perbedaan kemampuan tiap perusahaan dalam membayar gaji para karyawannya. Belum lagi faktor-faktor lain seperti kondisi ekonomi misalnya.

Menuntut hak itu wajib namun juga harus realistis dan jikapun harus disamakan maka otomatis pula harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Harapan warcoff apapun keputusan yang diambil pemerintah bisa diterima dan dimaklumi para buruh dan jikapun tetap berusaha mempertahankan keinginannya, diungkapkan dengan damai dan tidak merugikan orang lain . Semoga manfaat.

Comments

  1. saya berusaha memahami aspirasi buruh.
    memang biaya hidup sekarang melonjak sekali. apalagi untuk buruh yang hidup di jakarta.
    tapi, jika mengambil pilihan menaikkan gaji buruh, risiko makro dari sisi pemerintah dan investasi juga bakalan besar, dan lagi2 itu akan berpengaruh ke nasib buruh.

    ReplyDelete
  2. @Mas Zach : kebutuhan hidup memang tinggi ya mas, tapi memang sulit tuk memenuhi permintaan mereka itu apalagi jika terkait perusahaan "swasta" :)

    ReplyDelete
  3. saya dukung jika yang di tuntut itu penurunan harga, seperti demo2 jaman terdahulu ( TRIKORA , TRITURA )
    Kaizen Consulting

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts