Kabut Asap, Minyak Goreng dan Konsumen

Permasalahan kabut asap yang menyebar hingga ke beberapa kota di Indonesia seperti di Sumatera dan Kalimantan memang sudah sangat memprihatinkan... dan ini bukan yang pertama... warcoff merasakan sendiri bagaimana dampak tebalnya kabut asap yang meliputi kota Palembang, tempat warcoff tinggal selama ini.

Langit dan mentari pun sembunyi, seakan takut ditelan oleh tebalnya kabut asap yang tak terhenti. Bencana yang diakibatkan karna ulah kita sendiri... yang terus berulang, seperti datangnya musim kemarau dan hujan yang datang silih berganti.

Proyek perluasan lahan perkebunan kelapa sawit diatas lahan gambut, memang menjadi salah satu faktor utama terjadinya asap tebal tersebut. Disinilah letak kelemahan pemerintah, baik itu dari penetapan dan pengawasan peraturan serta ketegasan dalam penindakan pelaku pelanggaran.

Yah tidak bisa dipungkiri kelapa sawit merupakan tanaman yang punya nilai ekonomis sangat tinggi, tidak heran jika pemerintah sulit untuk bersikap tegas, bak makan buah simalakama, dimakan atau tidak, tetap ada yang jadi korbannya. Dan sang korban itu adalah... aku, kamu, kita, dan mereka semua !.

Sayangnya... sebagai korban, kadang tidak menyadari jika kita juga termasuk salah satu penyebab terjadinya masalah ini. Kenapa bisa seperti itu ?

Yaitu dari prilaku kita sebagai konsumen. Seperti kita ketahui Minyak sawit dapat diolah menjadi 100 jenis produk turunan mulai dari makanan, kosmetik, minyak goreng, farmasi, hingga bahan bakar.

Nah beberapa produk diatas sudah menjadi kebutuhan pokok semua kalangan masyarakat, seperti minyak goreng contohnya. Bisa dikatakan tingkat kebutuhan akan minyak goreng saja sangatlah tinggi. So semakin tinggi permintaan tentu akan semakin tinggi pula tingkat produksi dan bahan bakunya.

Dapat dibayangkan dan tak perlu heran jika banyak lahan serta hutan di negeri ini dibabat serta dibakar habis hanya untuk memenuhi kebutuhan itu.

Jadi sekarang sudah seharusnya kita bersikap bijak sebagai konsumen, terutama dalam membeli produk yang terkait dengan kelapa sawit. Salah satu cara bijak adalah kita bisa membeli minyak goreng atau margarin yang sudah berlabel RSPO.

Apakah RSPO itu ? RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil), adalah asosiasi nirlaba yang menyatukan para pemangku kepentingan dari tujuh sektor industri minyak sawit - produsen kelapa sawit, pemroses atau pedagang kelapa sawit, produsen barang-barang konsumen, pengecer, Bank dan investor, LSM baik LSM pelestarian lingkungan atau konservasi alam, maupun sosial. Untuk lebih jelas tentang peranan dan fungsi RSPO bisa dilihat di link berikut. (sumber1)

Ok itu bisa menjadi salah satu solusi terbaik. Namun masalahnya, belum ada satupun produk minyak goreng dan makanan yang berlogo RSPO di Indonesia. Alasannya karena produsen enggan menambahkan label RSPO di produk minyak goreng karena belum ada permintaan (dari konsumen/pihak terkait). Dan hanya produk untuk diekspor saja yang sudah berlabel RSPO, karena ada permintaan dari negara pembeli. (sumber2).

Melihat alasan itu, bisa jadi artinya konsumen Indonesia yang salah karena ketidaktahuannya atau produsen yang tidak peduli atau juga pemerintah kita sendiri yang lupa memperhatikan hal sepenting itu...

Yah kalau kita bicara tentang masalah dan penyebabnya memang tidak akan pernah ada habisnya, seperti halnya bagaimana cara efektif dan efesien dalam merubah kebiasaan atau pola prilaku konsumen negeri ini agar menjadi lebih bijak, ah pastinya bukan hal yang mudah.

Tapi seperti kata orangtua warcoff, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Tinggal bagaimana kita bisa memilah mana yang harus lebih dulu diperbaiki serta aktif bekerjasama dengan semua pihak.

Dan untuk permasalahan yang begitu kompleks seperti ini, sudah sepatutnya kita berbagi tugas sesuai fungsi dan tugas masing-masing. Seperti kita ketahui ada tiga unsur yang saling berkaitan dalam permasalahan ini, yaitu pemerintah, produsen dan konsumen.

So pemerintah fokus kepada fungsi dan tugas serta kewajibannya untuk memperbaiki masalah yang terjadi dengan tetap mengutamakan kepentingan rakyat, produsen harus patuh pada peraturan yang ada dengan tetap memperhatikan kepentingan umum, dan konsumen (masyarakat pada umumnya) lebih bijak dalam memilih produk yang dibeli.

Tinggal sekarang bagaimana masing-masing pihak menyadari itu semua, dan untuk itu warcoff sebagai konsumen dan sekaligus blogger mencoba memulai memupuk dan membangkitkan kesadaran itu dengan berbagi informasi melalui tulisan ini. Ayo biasakan #BeliYangBaik, bukan hanya untuk kini tapi juga nanti!. 


Referensi tulisan:
http://www.beliyangbaik.org/
http://www.rspo.org/consumers/about-sustainable-palm-oil
http://www.wwf.or.id/?41042/Berikan-Orangutan-Kemerdekaan-dari-Kebun-Sawit-Tak-Lestari
http://www.wwf.or.id/?40922/Suka-Makan-Gorengan-vs-Pelestarian-Gajah
http://sawitindonesia.com/berita-terbaru/dicari-produk-sawit-ramah-lingkungan







Comments

  1. Nah aku setuju,orang yang teriak teriak lawan asap jangan jangan suka gorengan. Kenapa tidak lawan minyak sawit biar tidak semakin merajalela kebun sawit itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, aku juga baru sadar kalau prilaku kita sbg konsumen ikut berperan dalam masalah asap ini :(

      Delete

Post a Comment

Popular Posts