Tiga kota, Beda budaya, Satu tujuan


tiga kota, beda budaya, satu tujuan

Pada dasarnya kita bisa tahu dan memahami budaya suatu daerah karena kita berasal atau pernah tinggal di tempat tersebut.

Nah kebetulan warcoff punya pengalaman berbeda terhadap suatu budaya karena ada tiga kota dimana warcoff dibesarkan, sekolah, kuliah dan kerja. Begini ceritanya :

Palembang - Sumatera Selatan. Keluarga besar warcoff asli dari Sumatera Selatan. Dan warcoff sendiri lahir dan besar di kota Palembang. Masa itu, budaya yang paling berkesan dan membekas hingga sekarang antara lain :

Budaya sanjo, ini tradisi silaturahmi pada saat lebaran. Sanjo ini tidak dibatasi hubungan kekerabatan, usia, status maupun jabatan. Biasanya penduduk satu kampung saling berkunjung satu sama lain walaupun sebelumnya tidak kenal. Inilah esensi dari sanjo sebenarnya, yaitu selain mempererat tapi juga memperluas hubungan pertemanan dengan orang-orang baru. Tak heran jika dulu satu kampung saling kenal satu sama lain.

Sayangnya tradisi sanjo ini sekarang sudah tidak seperti dulu lagi, karena saat ini sanjo lebih pada hubungan sanak kerabat atau karna ada hubungan pekerjaan dan bisnis saja. Saling sanjo sesama tetangga dekat aja sudah jarang dilakukan terutama di kampungnya warcoff sekarang. Efeknya jika kebetulan ada orang bertanya nama seseorang yang tinggal satu kampung dengan kita, dipastikan akan kebingungan hehe.

Nasi minyak pada setiap hajatan, biasanya pernikahan ataupun khitanan. Nasi minyak adalah seperti nasi kebuli, tapi nasi minyak ini katanya berasal dari India dan yang memasaknya waktu itu memang orang-orang keturunan India di Palembang (wong tambi sebutannya).

Entah kenapa, sepertinya nasi minyak menjadi suatu menu wajib saat itu. Setiap warcoff ikut ortu kondangan (menghadiri acara hajatan) bisa dipastikan menu itu selalu ada, dan memang rasanya enak terutama bagi penggemar daging kambing hehe.

Makan pempek dan cuko (saus/kuah pedas) itu sudah seperti budaya bagi orang Palembang, istilahnya tiada hari tanpa pempek dan cuko. Meski belum makan nasi, asal ada pempek dan cuko, senanglah hati.

Efek makan pempek dengan cuko yang mengandung asam cuka katanya punya pengaruh jelek pada gigi dan lambung, tapi sepertinya itu tidak mempan bagi kami orang-orang Palembang saking seringnya makan pempek plus cuko hehe.

Budaya suap-suapan dan cacapan. Ini budaya khas yang diselenggarakan saat pernikahan. Punya keunikan tersendiri dan pernah warcoff bahas di blog ini secara lengkap.

Bagi warcoff tradisi ini lebih menekankan pada esensi dari pernikahan itu sendiri, dimana sebagai suatu prosesi yang sakral dan tak akan terlupakan seumur hidup. Khususnya bagi kedua mempelai dan orang tua yang selama ini sudah membesarkannya.

Sungailiat - Provinsi Bangka Belitung. SMP hingga SMA warcoff di kota Sungailiat. Nah disini ada beberapa budaya khas yang warcoff sempat rasakan, terutama yang terkait dengan tradisi keagamaan. Antara lain :

Nganggung yaitu tradisi merayakan maulidan dimana masyarakat beramai-beramai datang ke masjid sambil membawa berbagai makanan di sebuah nampan (dulang) besar yang ditutupi dengan semacam tudung saji khas bangka yang berwarna warni. Tudung saji dan dulang inilah yang buatnya jadi khas.

Dulu rumah warcoff tepat berada didepan masjid agung Sungailiat, jadi tahu benar bagaimana meriahnya acara nganggung ini disetiap peringatan maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Semua orang datang dari segala penjuru kota dengan membawa makanan diatas dulang plus tudung sajinya, Sungguh saat itu menjadi momen yang tak terlupakan.

Kongnyan yaitu istilah hari raya imlek khas Bangka dimana yang membedakan dengan tempat lain adalah tradisi silaturahmi yang tidak terbatas dikalangan tionghoa saja tapi juga semua. Sama seperti lebaran, ada makanan dan minuman tersaji disetiap rumah. Warcoff merasakan sendiri saat berkunjung ke teman yang merayakan dan rasanya memang seperti saat lebaran hehe

Bangka pada khususnya memang sangat plural dari segi keragaman penduduknya. Tapi semua menyatu, tidak ada saat itu yang namanya kerusuhan atau bentrok antar suku disana. Orang keturunan (tionghoa), batak, jawa, bugis dan lain-lain semua rukun dan membaur.

Mungkin salah satu faktor penyatu waktu itu adalah karena secara status sosial tidak ada pembedaan, semua bisa bekerja apa saja, misalnya ada warga keturunan (tionghoa) yang bekerja sebagai buruh bangunan, tukang ikan, jualan keliling dan sebagainya. Tak heran jika semua bisa membaur dan saling menghargai.

Surabaya-Jawa Timur. Warcoff kuliah dan sempat kerja beberapa tahun disini. Dulunya warcoff pikir semua orang Jawa itu sama, identik dengan blangkon dan logat bahasa yang medok serta kalau bicara pelan dan halus hehe. Ternyata ada perbedaan budaya antara orang Jawa tengah dan timur.

Seperti gaya bicara orang Surabaya yang mirip dengan orang sumatera pada umumnya yaitu tegas dan blak-blakan. Belom lagi gaya bahasa “pisuan” khas Surabaya, yang bagi tidak mengerti menganggap ini sebagai umpatan atau makian yang berarti jorok atau merendahkan orang lain.

Padahal gaya bahasa pisuan ini sebenarnya bentuk keakraban saja ketika berbicara atau bercanda dengan teman-teman dekat. Intinya tidak digunakan sembarangan apalagi pada orang-orang yang lebih tua atau tidak kita kenal.

Yang sering buat bahasa itu jadi berkesan rusuh biasanya karena orang-orang pendatang seperti warcoff yang salah kaprah dalam menggunakannya hehehe.

Budaya cangkruk khas Surabaya juga sering warcoff ikuti. Cangkruk’an tidak identik dengan tempat nongkrong dipinggir jalan saja, tapi semua tempat dimana kita bisa berkumpul dan bersosialisasi.

Cangkruk juga menjadi tradisi pada malam tujuh belasan (hari kemerdekaan) disetiap kampung di Surabaya. Ini sesuai dengan esensi dari cangkruk yaitu sebagai bentuk kebersamaan serta keakraban (guyub) dengan tidak memandang suku, agama dan ras. Tempat dimana kita bisa berbagi bahkan menemukan solusi suatu permasalahan.

Sebenarnya masih banyak budaya-budaya lain yang terkait dengan daerah yang pernah atau warcoff tempati saat ini, tapi disini hanya ingin bercerita tentang budaya yang warcoff pernah ikuti secara langsung.

Dari ragam budaya yang warcoff rasakan itu, ada benang merah yang warcoff bisa simpulkan yaitu bahwa kita punya cara dan istilah yang berbeda dalam menjalani suatu kebiasaan atau budaya, tapi pada dasarnya tujuannya sama yaitu untuk berbagi kebahagiaan dengan wujud kebersamaan.

Selain itu, ternyata budaya bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Meski tidak berubah secara keseluruhan tapi paling tidak secara mekanisme pelaksanaannya.

Dan dampak positif bagi warcoff pribadi dari pengalaman diatas adalah bisa lebih fleksibel dalam memahami dan menghargai suatu perbedaan. Kita harus bisa menempatkan diri dimanapun kita berada, seperti kata pepatah, dimana tanah berpijak disitu langit dijunjung. Semoga manfaat.




Comments

  1. Bookmark this ! "Bahwa kita punya cara dan istilah yang berbeda dalam menjalani suatu kebiasaan atau budaya, tapi pada dasarnya tujuannya sama yaitu untuk berbagi kebahagiaan dengan wujud kebersamaan" karena keberagaman itu yang menjadikan Indonesia unik.. Bangga Indonesia, Bangga Budaya Indonesia ..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts