Warung Ngalah (Warung makan andalan kami)

Cerita ini waktu warcoff masih menjadi mahasiswa dan ngekos, warcoff dan teman-teman satu kosan punya warung makan langganan. Warung Ngalah namanya.

Warung kecil yang menyediakan makan dan minum. Pemilik warung itu adalah keluarga kecil yang menempati sebuah rumah yang merupakan pinjaman dari kenalan mereka. Nah lokasi warung Ngalah persis didepan rumah tersebut.

Ibu Ngalah, sebagaimana kami biasa memanggilnya, punya dua orang anak, lelaki dan perempuan yang waktu itu masih SD dan SMP. Suaminya sendiri ( Pak Sugiyono ) saat itu masih bekerja serabutan.

Pelanggan warung Ngalah kebanyakan para pekerja atau buruh bangunan di sekitarnya. Hanya kamilah waktu itu mahasiswa yang menjadi pelanggannya.

Sebenarnya di sekitaran kos kami ada banyak warung makan. Tapi warung Ngalah bagi kami punya kelebihan sendiri. Bukan karna harga atau rasa masakan disitu yang buat kami betah tapi rasa kekeluargaan yang diberikan oleh Ibu Ngalah dan keluarganya.

Setiap makan disitu serasa seperti di rumah sendiri. Makan dan minum sambil bercanda dengan Bu Ngalah sekeluarga bisa mengobati kerinduan kami pada kampung halaman.

Meskipun warung kecil itu adalah sumber utama pendapatan keluarga tersebut tapi tidak membuat mereka menjadi serba perhitungan dalam melayani kebutuhan dan permintaan pelanggannya.

Semua pelanggannya diperbolehkan ngutang dulu bila lagi gak punya duit hehe. Ini tentu sangat membantu kami sebagai anak kos yang waktu itu masih tergantung dengan kiriman uang dari orang tua.

Sistem “ngutang dulu” ini memang banyak berlaku pada warung-warung kecil seperti warung bu Ngalah. Dan semua itu berkat rasa kekeluargaan yang menjadi landasan utama pelayanan mereka.

Namun pada dasarnya semua usaha tentu harus berkembang atau paling tidak bisa bertahan menghadapi tingginya persaingan serta kondisi ekonomi yang tidak stabil. So warcoff jadi berpikir bagaimana masa depan warung Ngalah dan sejenisnya, tentu tidak selamanya mereka bisa bergantung pendapatan dari warung kecil seperti itu. Tentu mereka butuh modal untuk bisa lebih baik.

Maka dari itu warcoff tertarik sekali dengan program milik Bank BTPN Sinaya yaitu Tabungan Taseto Mapan, dimana melalui dana yang kita simpan, kita bisa turut memberdayakan masyarakat berpenghasilan rendah serta pelaku UMKM dalam meningkatkan kapasitas mereka melalui pinjaman dana dan berbagai pelatihan melalui program Daya.

Berikut hasil simulasi dana warcoff yang tumbuh secara optimal dengan Tabungan Taseto Mapan :


sumber : http://menabunguntukmemberdayakan.com/

So program ini bisa menjadi wujud terima kasih warcoff pada Bu Ngalah ataupun para pelaku usaha kecil lainnya. Menabung sekaligus memberdayakan jutaan Mass Market di Indonesia sungguh mulia tiada terkira.

Terima Kasih Bu Ngalah dan keluarga atas semua yang sudah diberikan, lama kita sudah tak bertemu. Moga Senantiasa diberi kesehatan dan kebahagiaan serta warung Ngalah terus jaya tak pernah kalah atau mengalah dalam menghadapi ketatnya persaingan serta kemajuan zaman. Terima kasih Mass Market!!!.



Comments

Popular Posts